Peralihan ke Mobil Listrik Diharapkan Alami, Seperti Manual ke Matik

18/10/2021

Pasar mobil

3 menit

Share this post:
Peralihan menuju mobil listrik di Indonesia diharapkan berlangsung secara alamiah seperti halnya transisi dari mobil bertransmisi manual ke transmisi otomatis.

Semakin ke sini pemerintah kian giat mendorong kehadiran mobil ramah lingkungan dengan kandungan emisi gas buang yang minim. Sejumlah aturan dirilis agar bisa memudahkan produsen melahirkan mobil listriknya di dalam negeri. Pun demikian bagi konsumen agar lebih mudah memiliki mobil listrik

>>> Pabrik Baterai Kendaraan Listrik Pertama di ASEAN Ada di Indonesia!

Gaikindo Harap Transisi Bisa Terjadi Secara Alamiah

Meski begitu, Ketua V Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Shodiq Wicaksono berharap peralihan penggunaan kendaraan listrik dari sebelumnya kendaraan berbahan bakar minyak bisa berlangsung secara alami di sisi masyarakat maupun industri karena ada banyak faktor yang mempengaruhi.

"Contohnya dahulu masyarakat Indonesia menggunakan mobil bertransmisi manual, namun untuk mengenalkannya ke transmisi otomatis dilakukan edukasi oleh APM secara alamiah sampai akhirnya mereka beralih sendiri. Begitu juga dengan EV ini mungkin bisa dilakukan dengan pendekatan transisi secara alamiah," ujar Shodiq saat menjadi pembicara webinar ‘Quo Vadis Industri Otomotif Indonesia di Era Elektrifikasi’ yang diselenggarakan oleh Forum Wartawan Industri (FORWIN) secara daring belum lama ini. 

Shodiq menilai strategi peralihan secara alamiah itu tampak berhasil. Hal tersebut dapat dilihat saat pemerintah merilis aturan Low Cost Green Car (LCGC) yang tujuannya juga menekan emisi karbon di Indonesia sejak 2013.

Daihatsu Ayla

LCGC masih memberikan kontribusi besar terhadap penjualan di Indonesia

Tak bisa dipungkiri hingga saat ini mobil LCGC masih menjadi primadona bahkan menjadi pilihan utama bagi sebagian besar orang Indonesia. Salah satu faktornya adalah harga yang lebih rendah ketimbang model lainnya. 

"Sampai saat ini kontribusi penjualan LCGC terhadap total penjualan kendaraan nasional bisa bertahan di angka 20%. Jadi memang stepping menuju pure EV itu perlu dilakukan secara alamiah," jelas Shodiq.

>>> First Drive Toyota C +Pod 2021: Bukti Nyata Pabrikan Dukung Pariwisata Di Bali

Harga Mobil Listrik Masih Tinggi

Sebelum menuju mobil listrik murni, Shodiq menyebut masyarakat bisa lebih dulu menggunakan kendaraan elektrifikasi lain berjenis hybrid ataupun Plug-in Hybrid. Hal itu tentu bukan tanpa alasan. Gaikindo mencatat ada beberapa tantangan yang akan terjadi apabila Indonesia tidak melalui tahapan alamiah menuju mobil listrik murni.

kendaraan listrik

Harga kendaraan listrik masih relatif mahal

Tantangan utama adalah harga jual mobil listrik murni yang tersedia di Indonesia saat ini masih tergolong mahal di kisaran Rp 600 juta lebih. Padahal kemampuan rata-rata orang Indonesia membeli mobil masih di bawah itu. 

"Sementara daya beli masyarakat Indonesia untuk kendaraan itu masih sekitar di bawah Rp 300 juta. Ada gap Rp 300 juta yang perlu diperhatikan. Kalau ada teknologi baterai yang bisa cepat diproduksi di dalam negeri dengan lebih murah dan efisien, maka harga EV akan lebih murah karena sekitar 40-60% harga mobil listrik itu berasal dari baterai," tegasnya.

Namun dengan adanya aturan perpajakan baru diharapkan harga kendaraan listrik di Indonesia bisa turun. Dengan begitu, masyarakat bisa lebih mudah menjangkau dan segera ingin beralih menggunakan mobil tanpa asap tersebut.

pabrik baterai kendaraan listrik

Jokowi percaya 3 tahun lagi jalanan Indonesia mulai diramaikan kendaraan listrik

Presiden Joko Widodo pun belum lama ini menyebut kendaraan listrik akan semakin banyak bermunculan di Indonesia. Terlebih pabrik baja di Indonesia disebut Jokowi sudah mampu memproduksi plat tipis yang bisa digunakan untuk kebutuhan pabrikan otomotif. 

>>> Jokowi Sebut 3 Tahun Lagi Kendaraan Listrik Bermunculan di Indonesia

Menjadi jurnalis otomotif di salah satu media ternama di Indonesia sejak 2016 dan telah memiliki ragam pengalaman menguji mobil hingga mengunjungi pameran otomotif tingkat dunia. Bergabung sebagai Editor di Cintamobil sejak tahun 2020.

Lulusan Universitas Trisakti ini mengawali karir sebagai jurnalis di kanal ekonomi di salah satu media ternama di Indonesia sejak 2015. Kemudian pada tahun 2016, dipercaya untuk mengisi kanal otomotif. Sebagai jurnalis di bidang otomotif, tentu dituntut untuk mengetahui ragam informasi yang berkaitan dengan mobil, motor, hingga lalu lintas kendaraan. Pun demikian dengan aturan lalu lintas yang berlaku saat ini. 

Tidak cuma memiliki pengetahuan soal industri otomotif Tanah Air, bekerja di media mainstream artinya dituntut juga untuk menyajikan berita secara cepat dan akurat. 

Dengan kemampuan yang dimiliki, sejak saat itu pula mulai dipercaya untuk mengetes ragam mobil baru di Indonesia maupun luar negeri. Adapun ragam mobil yang pernah dicoba antara lain di kelas LCGC, Low MPV, SUV, mobil listrik murni hingga Supercar sekelas Ferrari.

Tak cuma itu, aneka pameran otomotif berskala nasional dan internasional di berbagai negara juga telah dihadirinya. Pada tahun 2020, memutuskan untuk bergabung dengan Cintamobil.com sebagai Editor.

Experience

  • Tokyo Auto Salon 2019
  • Geneva International Motor Show 2017
  • GIIAS 2016, 2017, 2018, 2019
  • IIMS 2017, 2018, 2019
  • IMOS 2016, 2018
 
back to top