Rem Bus dan Truk Harus Cepat dan Pendek. Ini Alasannya

05/02/2021

Perawatan dan service

7 menit

Sistem Rem Bus dan Truk Harus Mampu Bekerja Optimal Untuk Menghasilkan Pengereman Yang Cepat dan Jarak Berhenti Yang Pendek Demi Memaksimalkan Keselamatan

Berbeda dengan kendaraan penumpang atau kendaraan niaga ringan,  bus dan truk memiliki sistem pengereman jenis performa tinggi yang sangat kuat dan rumit. Tidak lain karena  bus dan truk harus mampu melaju kencang dengan standar kendaraan niaga (sesuai ketentuan) untuk mengejar waktu tempuh sambil membawa beban muatan yang lebih berat dibanding  kendaraan  lainnya. Makanya sistem rem pada bus dan truk memiliki karakteristik teknis yang berbeda dengan kendaraan penumpang maupun kendaraan niaga ringan. Seiring perkembangan teknologi otomotif dn kebutuhan pemakaian, sistem pengereman standar yang terdapat  pada bus dan truk  terbagi menjadi tiga macam;  hidraulik, air over hydraulic (AOH) dan full air brake. 

>>> Cara Mencegah Rem Mobil Blong

Rem Bus dan Truk Model Hidraulik (FHB, Full Hydraulic Brake)

Sistem  rem bus dan truk yang menganut sistem hidraulik memanfaatkan tekanan fluida (minyak rem) untuk mengoperasikan kampas rem (brake shoe) pada rem tromol  dan  brake pads pada rem cakram (bus dan truk keluaran terbaru yang sudah mengadopsi sistem rem cakram). Saat pengemudi bus dan truk mengoperasikan pedal rem, maka fluida  dalam sistem rem akan mendorong brake shoe dan brake pads sehingga menekan brake drum (tromol) dan brake rotor (cakram) sehingga terjadi deselerasi sesuai kebutuhan. Sistem rem hidraulik kebanyakan diterapkan pada bus dan truk dengan kategori berat 5-10 ton dengan empat ban dan enam ban seperti Isuzu Elf, Hino Dutro, Mitsubishi Fuso Colt Diesel, dan Toyota Dyna.

Gambar sistem rem full hidraulik (Full Hydraulic Brake)

Sistem Rem Bus dan Truk Yang Menganut Full Hidraulik (Hydraulic Brake System)

Berbekal konstruksi yang relatif sederhana, sistem rem bus dan truk model hidraulik menjadi pilihan bagi bus dan truk kelas 5-10 ton karena biaya produksi yang relatif murah dan kemudahan dalam hal  perawatan serta pengoperasian. Pada sisi lain, sistem rem hidraulik tidak bisa digunakan secara terus menerus  untuk kondisi jalanan  menurun sambil  membawa muatan berat. Sebab kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kampas rem kepanasan lalu lengket pada tromol dan macet. Dalam kasus yang lebih ekstrem, fluida (minyak rem) mendidih dan lalu menguap sehingga menyebabkan rem blong. Solusinya, rata-rata bus dan truk dengan sistem rem hidraulik telah dilengkapi  sistem rem tambahan seperti sistem rem gas buang (exhaust brake). Satu hal lagi,  sistem rem  hidraulik sangat mengandalkan kekuatan kaki pengemudi untuk mengoperasikan pedal rem. Semakin kuat kaki kanan pengemudi ketika mengoperasikan pedal rem, maka pengereman semakin pakem. Dan berlaku pula sebaliknya, kurang kuat menginjak pedal rem maka pengereman terasa kurang pakem.  

>>> Review Hino FL 235 JW 2015

Rem Air Over Hydraulic (AOH)

Setingkat di atas sistem rem hidraulik adalah sistem rem bus dan truk model air over hydraulic (AOH). Secara umum, sistem rem bus dan truk model AOH memadukan sistem rem hidraulik dengan sistem udara bertekanan (compressed air). Secara singkat, cara  kerja sistem rem AOH adalah pengemudi mengoperasikan pedal rem yang bertugas membuka dan menutup  katup udara bertekanan serta mengatur aliran udara bertekanan  dari tangki udara (air tank). Selanjutnya udara bertekanan tersebut mendorong  fluida (minyak rem) yang kemudian menekan  brake shoe ke tromol dan brake pads ke cakram. Dalam bahasa sederhana, yang mengatur sistem rem adalah sistem angin bertekanan tinggi, sedangkan yang mengerem tetaplah sistem hidraulik. 

Gambar Truk Dengan Sistem Rem Air Over Hydraulic

Truk Hino FC 190 Dengan Sistem Rem Air Over Hydraulic

Secara umum, sistem rem AOH digunakan  pada bus dan truk kelas medium (kategori berat 10-24 ton) yang biasanya berdinas dalam kota atau antar kota dalam jarak relatif dekat. Contohnya adalah bus Hino FC dan truk Hino FC 190 J. Namun pada bus dan truk  kelas medium yang bertugas untuk jarak jauh atau AKAP, sudah banyak yang beralih pada sistem rem full air (FAB) karena memiliki aspek keselamatan yang  lebih tinggi. Pemilihan sistem rem AOH berdasarkan fakor  sistem rem hidraulik yang relatif lebih mudah dirawat tetapi memiliki  kinerja pengereman yang lebih baik dibanding sistem rem hidraulik standar. Alhasil kemampuan pengereman lebih seimbang dengan beban muatan yang dibawa oleh bus dan truk. Tetapi  mengandalkan sistem rem hidraulik sebagai bagian utama dalam sistem rem tentunya  tidak lepas dari kelemahan mendasar sistem rem hidraulik (blong, macet, dan panas) yang wajib menjadi perhatian khusus. 

 Rem Full Air (FAB, Full Air Brake) 

Sistem rem bus dan truk model full air atau FAB (full air brake) sudah  menjadi kelengkapan standar pada bus dan truk kelas medium duty dan heavy duty. Pada sistem  rem  full air sudah tidak ada lagi fluida (minyak rem) karena tugas  fluida  untuk mendorong brake pads/brake shoe sudah digantikan secara menyeluruh oleh udara bertekanan. Pedal rem pada bus dan truk dengan sistem rem  full air  hanya bertugas sebagai katup yang mengatur aliran udara bertekanan untuk menekan kampas rem. Tugas untuk mendorong kampas rem ke tromol dikerjakan oleh  komponen pendorong kampas rem (S-cam). Selain itu, sistem rem full air juga dilengkapi dengan  pengaturan setelan kampas rem otomatis sehingga mengurangi item dan waktu perawatan. 

Gambar Sistem Rem Full Air

Sistem Rem Bus dan Truk Yang Menganut Full Air (Full Air Brake) 

Hanya saja, sistem rem bus dan truk jenis full air bersifat lebih sensitif terhadap gejala kondensasi berupa  masuknya air ke dalam saluran udara bertekanan. Sebab, udara bisa dikompres dengan suhu dan tekanan tinggi, sedangkan air tidak bisa dikompres dengan suhu dan tekanan tinggi karena langsung menguap sehingga berpotensi menyebabkan kegagalan pada sistem pengereman full air. Itu sebabnya,  bus dan truk yang selesai berdinas  wajib menjalani ritual  “buang angin” yang dilakukan  mekanik untuk  membuang udara bertekanan dalam tangki udara melalui katup buang di bagian bawah tangki udara. Pada  sistem rem full air, setiap kebocoran yang menyebabkan  tekanan udara berkurang secara  otomatis membuat  seluruh sistem rem terkunci  sehingga lebih aman. Dengan demikian,  tidak ada istilah rem blong pada  sistem rem full air. Pada sisi lain,  sistem rem full air menganut konstruksi lebih rumit dan memiliki  banyak perangkat serta sub sistem pendukung sehingga membutuhkan perawatan yang lebih seksama.

>>> Lihat juga tips dan trik lainnya di Cintamobil.com

Sudah makan asam garam jadi wartawan, mulai dari wartawan kampus sejak 1988, dan jadi wartawan bidang otomotif sejak 1995. Pernah menulis untuk beberapa media top mulai dari koran, majalah dan tabloid. Tahun 2021 ia menulis untuk Cintamobil.com.

 
back to top