Ragam Teknologi Mobil Listrik, Mana Yang Paling Relevan Untuk Indonesia?

02/07/2019
Dunia otomotif secara keseluruhan sedang beralih menuju elektrifikasi, termasuk Indonesia. Apa saja teknologi mobil listrik yang ada sampai saat ini, dan mana yang paling relevan untuk diterapkan di tanah air?

Isu seputar emisi gas buang dan polusi yang dihasilkan mesin mobil konvensional memicu para pabrikan berinovasi dalam menciptakan mobil ramah lingkungan, salah satunya mobil listrik. Mulai dari pabrikan mapan seperti Toyota, BMW, Nissan, hinngga manufaktur baru seperti Tesla yang sepenuhnya fokus pada elektrifikasi, teknologi mobil listrik berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir.

Gaung elektrifikasi juga sudah sampai di tanah air, pemerintah sedang menyusun regulasi baru yang mendukung pengembangan mobil Low Carbon Emisson Vehicle (LCEV), yang salah satu poinnya membahas perakitan mobil listrik di di Indonesia.

>>> Sambut elektrifikasi, inilah 10 mobil listrik yang dapat Anda beli tahun depan

Sampai saat ini, setidaknya sudah ada 4 teknologi mobil listrik yang dikembangkan, yakni Hybrid Electric Vehicle (HEV), Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), Baterry Electric Vehicle (BEV), dan Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV). Apa saja perbedaan antara keempatnya, dan mana yang paling relevan diterapkan di Indonesia saat ini?

Hybrid Electric Vehicle (HEV)

Toyota Prius Plug-In Hybrid warna biru

Toyota Prius telah terjual sebanyak 6,1 juta unit sejak 1997

Hybrid Electric Vehicle, atau yang biasa disebut Mild Hybrid Electric Vehicle (MHEV) adalah konsep elektrifikasi pertama yang meraih sukses di pasaran. Salah satu model yang paling terkenal adalah Toyota Prius, yang telah terjual 6,1 juta unit sejak debutnya pada 1997 silam.

Pada dasarnya, teknologi mobil listrik hybrid memadukan mesin konvensional dengan motor listrik dengan baterai sebagai sumber tenaganya, dengan baterai yang diisi dengan regenerative braking (kinerja mesin dari pengereman), mobil hybrid tidak memerlukan charging station.

Karena konsep kerjanya yang cukup sederhana, kami merasa teknologi mobil listrik hybrid dapat diterapkan di Indonesia dalam jangka waktu dekat karena tidak membutuhkan infrastruktur tambahan.

Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV)

Arsitektur rancang mobil plug-in hybrid

Pada mobil Plug-In Hybrid motor listrik jadi tumpuan tenaga

Berbeda dari Hybrid, teknologi mobil listrik Plug-In Hybrid motor listrik jadi tumpuan tenaga, dengan mesin berkapasitas kecil hadir sebagai range extender. Dengan konsep demikian, penggunaan mesin konvensional jauh lebih sedikit ketimbang HEV.

Hal tersebut berimbas pada efisiensi bahan bakar kendaraan PHEV, dari uji coba enam perguruan tinggi, yakni ITB, UI, UGM, Udayana, ITS, dan UNS dalam membandingkan mobil konvensional, HEV serta PHEV yang didukung oleh PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) disimpulkan bahwa Plug-In Hybrid dua kali lebih irit ketimbang HEV.

PHEV memang mendapatkan supply tenaga dari regenerative brake dan motor bakar, namun kedua metode pengisian tersebut tidaklah optimal untuk membuat baterai mobil terisi penuh.

>>> Temukan mobil incaran dengan harga serta kondisi terbaik di sini

Pengisian paling optimal untuk mobil ini adalah dengan charger, namun pengisian daya mobil ini membutuhkan daya yang sangat besar. Setidaknya, rumah harus memiliki kapasitas listrik 4.400 Watt untuk mengisi mobil ini.

Solusi lainnya bisa menggunakan stasiun pengisian, atau tempat publik yang menyediakan fasilitas listrik berdaya tinggi, jelas Indonesia membutuhkan investasi untuk menunjang penggunaan teknologi mobil listrik PHEV.

Battery Electric Vehicle (BEV)

Rancang bangun platform MEB Volkswagen

Saat ini, sebagian besar pabrikan mengusung konsep BEV

Sesuai dengan namanya, teknologi mobil listrik ini menggunakan baterai sebagai sumber tenaga mobil, yang berarti keberadaan stasiun pengisian baterai sangat krusial bagi pengguna mobil ini.

Tesla merupakan salah satu pabrikan yang menerapkan BEV, di atas kertas konsep ini lebih ekonomis ketimbang Hybrid, terurama dalam hal perawatan. Teknologi mobil listrik ini tidak perlu perawatan seperti seperti penggantian oli mesin, oli transmisi, dan lainnya, begitupun motor listriknya yang free maintenance.

Tesla model S Warna merah

Tesla hadir sebagai pelopor, dan saat ini mendominasi pasar mobil BEV

Akan tetapi, pengguna mobil BEV sangat bergantung dengan stasiun pengisian baterai ini. Jika Anda ingin mengisi baterai mobil di rumah, daya yang digunakan juga sama besarnya seperti PHEV.

>>> Jangan sampai tidak update berita seputar terknologi terbaru mobil di sini

Banyak pabrikan sudah membangun stasiun pengisan daya mobil listrik yang canggih, seperti Tesla dengan supercharge-nya. Namun, akan sulit jika teknologi tersebut masih sangat terbatas, semisal di Indonesia. Solusinya, pengguna BEV harus dengan cermat memperhitungkan pemakaian pemakaian listrik jika tidak ingin mogok karena kehabisan baterai.

Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV)

Konsep fuel cell car Honda Clarity

Teknologi Fuel Cell masih terbilang asing bagi sebagian besar pabrikan

Sama-sama menggunakan baterai sebagai sumber daya utamanya, teknologi mobil listrik Fuel Cell (FCEV) memiliki prinsip berbeda ketimbang BEV. Mobil ini bisa menghasilkan listrik sendiri yang diproduksi di unit fuel cellnya, dan di atas kertas mobil ini lebih efisien 80% ketimbang mobil konvensional, dan memiliki emisi berupa uap atau air.

Namun, masalah utama FCEV terletak di pengaplikasian Hidrogen sebagai bahan bakar utamanya, stasiun pengisian Hidrogen merupakan infrastruktur modern dan cukup rumit dalam pengoperasiannya.

Bukan hanya pengisian, penyimpanan hidrogen di tabung bertekanan tinggi juga punya risiko meledak yang tak bisa diremehkan, baik itu di mobil ataupun stasiun pengisian hidrogen.

>>> Tips & trik otomotif terlengkap hanya ada di Cintamobil.com

Derry Munikartono

Ulasan anda

Apakah artikel ini bermanfaat untuk Anda?
0

berita lain