Mobil Baru Masih Pakai BBM Premium, Ini Resikonya!

Share this post:
Mobil Baru Masih Pakai BBM Premium, Ini Resikonya!
Sebagai bahan bakar dengan nilai oktan rendah, BBM Premium sangat tidak cocok digunakan pada mobil-mobil keluaran terbaru yang memiliki rasio kompresi tinggi. Konsekuensinya, pemakaian Premium yang dipaksakan bisa menimbulkan risiko buruk pada mobil.

Foto seorang petugas siap mengisi BBM ke mobil

BBM Premium masih sangat dibutuhkan di beberapa daerah di Indonesia

Berbagai bahan bakar kendaraan bermotor atau BBM tersedia di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum). Selain Pertalite dan Pertamax sebagai produk paling laris, Premium juga masih dipasok meski volumenya semakin sedikit karena konsumennya yang makin sedikit. Dengan Research Octane Number atau RON 88, oktan Premium memang paling rendah dibanding bahan bakar lain seperti Pertalite (RON 90), Pertamax (RON 92) dan Pertamax Turbo (RON 98).

Nilai RON rendah ini seiring dengan harga Premium yang paling murah dibanding BBM lain. Bisa dipastikan, Premium adalah bahan bakar paling kurang bagus terutama bila dipakai pada mobil-mobil keluaran terbaru yang memiliki kompresi tinggi. Sebagai contoh Suzuki All New Ertiga punya rasio kompresi statis di angka 10,5:1, Toyota Avanza 11:1, Honda Mobilio 10,3:1 dan Mitsubishi Xpander 10,5:1 minimum bahan bakar yang disarankan adalan Pertamax yang memiliki RON 92, bukan Pertalite apalagi Premium.

foto deretan honda hr-v 2018

Penggunaan BBM pada mobil disarankan sesuai dengan rasio kompresi

Tak dipungkiri meski saran tersebut sebenarnya sudah disampaikan oleh dealer sejak awal pembelian, masih banyak pemilik mobil keluaran terbaru menggunakan BBM Premium. Kepala Bengkel Auto2000 Rajabasa Lampung, Totok Trilaksono menuturkan di wilayahnya ada lebih dari 50 persen pemilik Toyota baru menggunakan BBM Premium. Hal ini diketahui dari beberapa konsumen saat mereka melakukan servis, ada beberapa komponen paling sering rusak dan memerlukan penggantian. Ternyata pemiliknya rutin menggunakan BBM Premium.

>>> Efektifkah Mencampur BBM untuk Mendapatkan Efisiensi Bahan Bakar?

Berikut penjelasan Totok mengenai resiko menggunakan BBM Premium pada mobil-mobil terbaru yang punya rasio kompresi cukup tinggi.

  • Komponen filter bensin lebih pendek umurnya. Tidak ada panduan soal sampai kapan usia komponen filter bensin ini. Tapi konsumen yang rutin menggunakan BBM Premium lebih cepat mengganti komponen yang satu ini dikarenakan sudah tidak layak digunakan.
  • Busi lebih cepat minta ganti. Normalnya penggantian busi dilakukan saat mobil sudah menempuh jarak 20.000 km. Busi iridium malah bisa lebih panjang lagi hingga 100.000 km. Tapi kalau pemilik mobil masih memilih BBM Premium, usia busi bakal lebih pendek dari standarnya.
  • Mobil ngelitik. Penggunaan BBM Premium pada mesin berkompresi tinggi bisa menimbulkan kerek karbon pada cylinder head. Ini salah satu yang membuat mesin dari ngelitik/knocking kalau tidak dibersihkan. Solusinya, harus dibersihkan menggunakan cairan kimia. Bila tidak berhasil satu-satunya jalan adalah bongkar mesin dan itu makan biaya mahal. Bongkar itu mahal, di mana biayanya berkisar Rp 3 juta sampai Rp 4 juta. Itu dilakukan kalau pakai cairan kimia masih belum bisa bersih,” tutur Totok kepada awak media di Lampung, Kamis (27/9/2018) lalu.
  • Bakal lebih sering melakukan kuras tangki bahan bakar. Selain melakukan pembersihan, aktifitas ini untuk mengetahui bagaimana kondisi filter bensin yang sebenarnya.

Secara kesimpulan, menggunakan BBM Premium ini sudah seharusnya mulai dikurangi bahkan ditinggalkan. Kebijakan standar emisi Euro 4 yang ditetapkan pemerintah mulai akhir 2018 ini adalah hal yang tepat meski boleh dikatakan terlambat bila dibanding negara lain yang sudah mulai beralih pada standar emisi yang lebih tinggi. Seperti di Singapura, negara terdekat dengan Indonesia ini sudah menerapkan standar emisi Euro 6 dan tidak ada lagi BBM Premium dipakai untuk mobil.

Namun bukan berarti mobil dengan rasio kompresi tinggi haram sama sekali memakai bahan bakar jenis Premium maupun Pertalite. Mengapa? "Karena mobil modern saat ini memiliki sensor knocking, yang cara kerjanya secara otomatis dapat membuat pengapian menjadi lebih maju ataupun mundur sesuai dengan parameter knocking alias detonasi," papar Triyono dari Family Auto Service di bilangan Bintara, Bekasi Selatan. Selain itu, angka kompresi yang tertera pada brosur merupakan angka kompresi statis bukan dinamis. Secara teori, angka kompresi dinamis bisa lebih rendah dari angka statis.

>>> Mengisi BBM di Pagi Hari Lebih Efektif, Mitos atau Fakta?

Gambar mobil mewah isi BBM Pertamax Turbo

Makin tinggi rasio kompresi mobil, makin tinggi pula spesifikasi bahan bakar yang digunakan

>>> Temukan berbagai tips dan trik otomotif terpercaya hanya di sini​

Share this post:
Penulis
Satu-satunya anggota redaksi yang berbasis di Jawa Tengah. Bergabung di Cintamobil.com sejak 2017 sebagai Content Writer. Saat ini, kerap menulis berbagai informasi seputar lalu lintas dan perkembangan transportasi di Indonesia.
 
back to top