Masih Pakai BBM Oktan Rendah Sejenis Premium? Ini Dampaknya ke Mobil

04/01/2022

Perawatan dan service

4 menit

Share this post:
Masih Pakai BBM Oktan Rendah Sejenis Premium? Ini Dampaknya ke Mobil
Penggunaan BBM dengan oktan rendah sejenis premium bisa memberikan efek jangka pendek dan jangka panjang ke mobil. Simak penjelasan lengkapnya berikut.

BBM oktan rendah sejenis Premium belakangan ini menjadi topik perbincangan hangat. Kabarnya BBM Premium itu bakal dihapus dan menyusul setelahnya Pertalite. 

>>> Mobil Baru Masih Pakai BBM Premium, Ini Resikonya!

BBM Premium Masih Dijual

Foto seorang petugas siap mengisi BBM ke mobil

Premium masih didistribusikan

Namun melalui Peraturan Presiden nomor 117 tahun 2021 tentang Perubahan Ketiga Asat Peraturan Presiden Nomor 191 tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak pasal 3 ayat 2 menyiratkan bahwa BBM Premium masih akan didistribusikan. Nantinya BBM khusus Penugasan dalam hal ini bensin RON minimum 88 alias Premium akan didistribusi ke seluruh wilayah Indonesia. 

Pertamina sebagai perusahaan yang mendapat penugasan khusus untuk menjual BBM Premium, belakangan memang tengah gencar mempromosikan program Langit Biru.

Program Langit Biru ditujukan untuk menekan emisi gas buang sekaligus mengurangi polusi udara lewat Pertalite Harga Khusus. Kemudian konsumen juga diarahkan menggunakan BBM dengan oktan lebih tinggi sejenis Pertamax hingga Pertamax Turbo. 

Di sisi lain, penggunaan BBM yang oktannya rendah seperti Premium juga memberikan pengaruh buruk terhadap kondisi kendaraan Anda. Mengutip laman instagram Pertamina, efek yang ditimbulkan ini ada dua yakni jangka pendek dan juga jangka panjang. 

Efek jangka pendek yang pertama ditimbulkan adalah tenaga mesin tidak optimal. Mesin yang seharusnya bisa menghasilkan tenaga dengan besaran tertentu justru terlihat 'ngempos'. Kemudian konsumsi BBM juga bisa jadi lebih boros.

Foto Indikator ECO Driving pada layar MID

Konsumsi BBM bisa lebih boros bila menggunakan bahan bakar oktan rendah

Jadi jangan dulu menyalahkan mobilnya ketika klaim konsumsi BBM yang diumumkan pabrikan berbeda dengan kenyataannya. Mungkin Anda bisa langsung mengecek apakah sudah menggunakan BBM sesuai anjuran. Ya, masing-masing pabrikan biasanya memiliki standar BBM oktan tertentu untuk setiap mobilnya. 

Dampak yang paling umum sering dirasakan pengendara namun kerap kali dihiraukan adalah mesin ngelitik. Bunyi ngelitik dari mesin cukup mengganggu ketika tengah berkendara. Ujung-ujungnya, kalau diteruskan biaya perawatan mesin jadi lebih mahal. 

>>> Premium dan Pertalite Mau Dihapus, BBM Shell Ini Juga Dipangkas

Bisa Menimbulkan Dampak Jangka Panjang

Kemudian untuk jangka panjangnya, penggunaan BBM oktan rendah bisa merusak piston. Dalam kondisi terburuk piston menjadi berlubang. Bisa juga menimbulkan kerak karbon pada mobil. Dalam beberapa kondisi, penggunaan BBM oktan rendah sejenis Premium juga bisa membuat mobil turun mesin.

Sebagai informasi, saat ini Premium merupakan BBM dengan oktan paling rendah yang dijual di Indonesia. Tak bisa dipungkiri, harga yang lebih murah ketimbang BBM jenis lainnya menjadi daya tarik untuk Premium. Sejauh ini, tinggal tersisa empat negara yang menawarkan Premium. Penggunaan BBM Preium di Indonesia sendiri tercatat makin lama makin menurun.

Dalam data yang dirilis Kementerian ESDM, penjualan BBM Premium merosot cukup drastis dari 28.107.022 kilo liter pada tahun 2015 menjadi 8.640.647 kilo liter pada tahun 2020. Kemudian diproyeksikan hingga akhir tahun 2021 penyerapan BBM Premium sebesar 3.415.440 kilo liter. 

Menjadi jurnalis otomotif di salah satu media ternama di Indonesia sejak 2016 dan telah memiliki ragam pengalaman menguji mobil hingga mengunjungi pameran otomotif tingkat dunia. Bergabung sebagai Editor di Cintamobil sejak tahun 2020. Lulusan Universitas Trisakti ini mengawali karir sebagai jurnal
 
back to top