Banyak mitos tentang ban yang selama ini dipercaya oleh pemilik mobil. Masalahnya, tak semua mitos tersebut benar. Bahkan celakanya, banyak pemilik mobil yang mempercayai mitos tentang ban, yang ternyata keliru, sehingga berpotensi besar dapat mengundang celaka. Untuk itu, Cintamobil.com akan meluruskan seputar mitos seputar ban, berikut penjelasannya agar Anda lebih cermat dalam memilih, menggunakan dan merawat ban mobil Anda.
1. Batas kadaluarsa ban
Selama disimpan dengan baik dan tak ada kerusakan atau cacat, ban dapat disimpan cukup lama tanpa mempengaruhi kualitasnya
Tak ada patokan baku mengenai batas kadaluarsa ban. “Tahun produksi ban memang menandakan kapan ban tersebut diproduksi dan terkait dengan SNI, tapi tidak berpengaruh pada batas kadaluarsa ban,” ujar Eko Apriyanto dari Bridgestone Tire Indonesia. Memang, umumnya pabrikan menentukan usia maksimal ban yang diperbolehkan untuk digunakan adalah 5 tahun. Jadi meski ban telah tersimpan hingga 2 tahun, tak akan bermasalah dari segi kekuatan dan kualitasnya. “Selama tidak ada kerusakan pada konstruksi anyaman baja, luka pada dinding ban, tak bermasalah menggunakan ban yang telah disimpan lama, selama penyimpanannya benar,” ujar Eko.
>>> Apakah Ban Memiliki Masa Kadaluarsa? Ternyata Begini Jawabannya
2. Usia ban
Untuk melihat usia ban yang paling akurat bisa dengan mengecek tingkat keausannya
Usia ban akan sangat dipengaruhi oleh kondisi jalan, beban, settingan suspensi dan gaya mengemudi. Patokan ban yang bisa digunakan untuk mengganti ban adalah kondisi tapak ban. Jika sudah aus, maka harus diganti. Selain itu, “Selama ban tidak mengalami kerusakan akibat benturan keras yang membuat benjol atau dinding ban retak, maka ban masih bisa digunakan,” ujar David dan Universal Ban, Jatiwaringin, Jakarta Timur.
3. Semakin tinggi tekanan angin ban maka mudah pecah
Tekanan ban terlalu tinggi tak membuatnya mudah pecah, namun akan mempengaruhi kenyamanan dan daya cengkeram ban pada permukaan jalan
Mitos tentang semakin keras tekanan ban, semakin mudah pula ban tersebut bisa pecah. Padahal mitos ini keliru. Konstruksi ban dibuat sedemikian rupa sehingga tahan hingga tekanan tinggi, yakni 40 hingga 44 psi. Justru sebaliknya, tekanan angin ban terlalu rendah yang dapat membuat ban menjadi lebih rentan pecah. Hal tersebut karena akan membuat kerja dinding ban semakin fleksibel dan mudah terkoyak dan membuat kawat pada side wall putus, sehingga menyebabkan ban pecah. Idealnya, jaga tekanan ban sesuai rekomendasi pabrikan.
4. Ban dengan tekanan lebih tinggi bisa bikin mobil lebih irit
Tekanan ban yang terlalu tinggi tak selalu membuat konsumsi bahan bakar mobil Anda menjadi irit. Namun yang pasti, tekanan ban yang terlalu tinggi akan membuat tapak ban tidak menapak sempurna pada permukaan jalan. Akibatnya, akan membuat traksi ban berkurang dan rentan kehilangan traksi. Selain itu, tekanan angin ban terlalu tinggi membuat fungsi ban sebagai peredam guncangan akan berukuran dan membuat bantingan menjadi keras, kurang nyaman dan pemakaian dalam jangka panjang, berefek pada usia pakai komponen suspensi.
>>> Ini Akibatnya Jika Kebiasaan Gunakan Tekanan Angin Ban Terlalu Tinggi
5. Tingkat keausan ban sama rata
Rotasi ban akan membantu tingkat keausan pada ban lebih merata
Dengan gaya mengemudi, jumlah tikungan, pengereman, dan akselerasi yang berbeda di setiap roda, hal ini membuat keausan setiap ban berbeda-beda. Itu sebabnya produsen ban merekomendasikan untuk merotasi ban setiap 10 ribu kilometer. Pada ban yang alurnya simetris, teknik yang digunakan adalah diagonal. Jadi ban belakang kiri ditukar dengan kanan depan, sementara kanan belakang bertukar posisi dengan ban di kiri depan. Untuk ban dengan alur tidak simetris, rotasi dilakukan pada setiap sisi. Artinya ban belakang pindah ke depan dengan sisi yang sama.
>>> Agar ban Awet dan Aus Merata, Berikut Tips Rotasi Ban
6. Saat mengganti sepasang ban, ban kondisi lebih baik diletakkan di depan
Penggantian ban tak boleh sembarangan, karena akan mempengaruhi daya cengkeram di keempat rodanya
Jika hanya mengganti sepasang ban, maka ban dengan kondisi paling bagus lebih baik dipasang di depan. Mitos tersebut keliru. “Ban dalam kondisi paling baik atau baru, dipasang di belakang. Ini berlaku untuk mobil penggerak depan dan belakang,” ujar Jusri Pulubuhu selaku pendiri dan instruktur keamanan berkendara Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC). Karena roda belakang membutuhkan traksi lebih baik. “Kalau roda depan, bisa dikendalikan melalui setir, kalau dibelakang kan tidak bisa,” tambahnya.
>>> Mengganti Sepasang Ban, Lebih Baik Dipasang Dimana?
7. Merek boleh berbeda, asalkan jenis dan ukurannya sama
Setiap pabrikan ban memiliki desain tapak dan material yang berbeda, untuk itu disarankan untuk menggunakan ban dengan beda merek, ukuran dan tipe
Setiap produsen memiliki resep yang berbeda untuk merancang dan membuat ban, khususnya pada desain tapak ban dan bahan baku yang digunakan. Meski spesifikasi ukuran dan jenisnya sama, namun tidak disarankan untuk menggunakan ban berbeda merek. Maka sebaiknya, gunakan merek, tipe dan ukuran ban yang sama untuk keempat ban.
>>> Temukan mobil bekas pilihan dengan harga terbaik di sini
8. Tekanan angin ban dikurangi saat hujan
Mitos atau anggapan ini keliru. Dengan tekanan angin yang berukurang, maka akan membuat tapak ban mudah terlipat. Akibatnya, kemampuan alur ban untuk membuang air menjadi berkurang dan rentan mengalami gejala aquaplaning dan bisa berakibat fatal. Selain itu, saat hujan membuat suhu ban menjadi dingin. Kondisi ini membuat tekanan angin bisa turun hingga 1 psi. Sangat penting untuk menjaga tekanan angin ideal sesuai rekomendasi pabrikan dalam kondisi hujan atau kering.
9. Sudut kemiringan dan posisi ban berpengaruh dengan tingkat keausan ban
Anggapan ini benar. Sudut kemiringan dan posisi ban atau wheel alignment akan sangat berpengaruh dengan tingkat keausan ban bahkan konsumsi bahan bakar. Wheel alignment yang keliru atau berubagh akan membuat keausan ban tidak merata karena perbedaan sudut ban seperti toe, camber atau caster yang membuat ban tak menapak sempurna dan membuat ban seperti ‘terseret’. Efek lainnya, beban mesin akan lebih besar untuk menjalankan mobil, sehingga berpengaruh pada konsumsi bahan bakar. Sehingga, sangat disarankan untuk melakukan spooring dan blancing setiap 10 ribu kilometer.
10. Tak ada batas maksimal untuk menambal ban
Ada batasan maksimal dalam menambal ban agar tak mempengaruhi konstruksi dan kekuatan ban
Mitos atau anggapan ini keliru, karena untuk ban tubeless, maksimal hanya boleh ditambal tiga kali. “Juga dengan catatan, jarak tambalannya tidak boleh kurang dari 20 cm,” ujar Eko. Karena jika tambalan ban terlalu banyak dan rapat, dikhawatirkan akan mempengaruhi kekuatan konstruksi ban. “Kalau terlalu sering ditambal atau terlalu dekat jarak tambalannya, takutnya akan merusak anyaman kawat baja di dalam ban, sehingga kekuatan ban berkurang dan mudah bocor atau meledak sewaktu-waktu,” pungkas David.






