Mazda SKYACTIV-X Pemecah Logika Mekanik

06/06/2018
Mazda memang selalu nyeleneh dalam hal pengembangan teknologi mereka, salah satunya SKYACTIV-X yang jadi pemecah logika mekanik. Apa kehebatan mesin ini?

Prototipe Mazda SKYACTIV-X sedang diuji coba

Prototype Mazda3 bermesin SKYACTIV-X sedang diuji coba

Insinyur mesin Mazda terus mengembangkan teknologi motor bakar bensin hingga mendekati limitnya. Bahkan teknologi SKYACTIV-X ini menjadi pemecah logika mekanik dalam berpikir. Bagaimana mungkin sebuah mesin bensin dengan rasio kompresi tinggi hanya perlu menenggak bahan bakar oktan yang rendah. Sedangkan jika dipaksakan meminum bahan bakar oktan tinggi, yang akan terjadi mesin tidak maksimal pembakarannya. Kok bisa?

Inilah sisi menariknya, hal ini membuat Mazda SKYACTIV-X menjadi pemecah logika mekanik dalam berpikir. Sebenarnya sudah dari dulu Mazda berusaha untuk selalu membolak-balikkan fakta di lapangan. Bahwa penggunaan kompresi mesin yang tinggi tidak selalu harus berbanding lurus dengan penggunaan bahan bakar beroktan tinggi pula. Lihat saja SKYACTIV-G pada Mazda CX-5 yang punya rasio kompresi 13:1 namun cukup pakai Pertalite dengan nilai oktan 90.

>>> Punya mobil, sayang kalau tak baca tips dan triknya di cintamobil.com

Setelah sukses dengan basis SKYACTIV-G pada line up produk mereka saat ini. Kini Mazda bersiap memproduksi masal mesin dengan menggunakan teknologi SKYACTIV-X. Mesin ini dilengkapi dengan rasio kompresi hingga 16:1 namun hebatnya pembakaran mesin tersebut tetap optimal dengan bahan bakar bernilai oktan 80. Benar-benar di luar nalar berpikir bagi orang awam dan beberapa mekanik. Tidak heran Mazda SKYACTIV-X jadi pemecah logika berpikir para mekanik

Tentunya sulit untuk membayangkan jika mesin SKYACTIV-X dengan kompresi tinggi hingga 16:1 namun tetap optimal dengan menggunakan bahan bakar oktan rendah (80) tanpa terjadi knocking alias ngelitik yang berpotensi membuat mesin jebol. Spark Contolled Compression Ignition (SPCCI) menjadi jawaban Skyctive-X. Dimana kontrol dari percikan busi menjadi salah satu kunci utama berjalannya sistem ini.

>>> Ini cara ampuh hindari kemacetan saat Lebaran

 

Mesin SKYACTIV-X dengan kompresi yang tinggi 16:1

Mazda juga mengembangkan sistem Homogeneous Charge Compression Ignition (HCCI)

Selain penyematan SPCCI, Mazda juga mengembangkan sistem Homogeneous Charge Compression Ignition (HCCI) yang mana gagal dikembangkan oleh pabrikan lain di dunia. Sistem HCCI ini prinsip kerjanya dengan menggunakan rasio kompresi yang tinggi untuk membakar bensin, seperti pada mesin diesel. Prinsip kerja mesin diesel memiliki campuran bahan bakar yang miskin (lean combustion). Karena seluruh bahan bakar dimasukkan ke ruang bakar dan diubah menjadi tenaga oleh kompresi mesin.

Pada mesin SKYACTIV-X campuran bahan bakar dengan udara di buat sangat miskin. Jika pada normalnya Air Fuel Ratio (AFR) di patok pada 14,7:1 maka pada SKYACTIV-X ini bermain pada angka 29 hingga 37:1. Maka digunakanlah Supercharger agar pasokan udara tetap terpenuhi, plus teknologi katup variabel yang memungkinkan katup tetap terbuka meski piston sudah bergerak naik. Dengan campuran miskin tersebut, tidak akan membuat bahan bakar terbakar meski kompresinya setinggi 16:1.

Maka digunakanlah bahan bakar dengan nilai oktan rendah (80) untuk mengakali kompresi tinggi dan campuran miskin tersebut. Perlu pembaca CintaMobil.com ketahui terlebih dahulu akan sifat bahan bakar. Semakin tinggi oktan maka bahan bakar akan semakin sulit terbakar. Sebaliknya semakin rendah oktan maka bahan bakar akan semakin mudah terbakar. Inilah kecerdikan insinyur Mazda dalam memecah logika mekanik dalam berpikir.

>>> Mungkin Anda ingin lihat: Review Mazda 3 Speed 2018, Varian Penuh Gaya

Salah satu kunci dari konsep ini adalah membuat campuran bahan bakar dan udara berputar seperti tornado di dalam ruang bakar saat terjadi langkah hisap. Tentunya ini perlu menggunakan piston dengan desain khusus (yang masih dirahasiakan oleh Mazda) untuk hal ini. Putaran tornado tersebut membuat campuran antara bensin dengan udara menjadi homogen. Saat piston mencapai TMA (Titik Mati Atas) maka direct injection akan menyemprotkan bahan bakar untuk kedua kalinya bersamaan percikan busi. Bahan bakar dengan oktan rendah akan segera terbakar dan memberi tekanan yang cukup.

Intinya, Engineer Mazda ingin menghilangkan kerugian dari mesin bensin konvensional. Dimana busi telah memercik api sebelum piston mencapai puncak. Jika menggunakan bensin dengan oktan yang lebih tinggi, maka otomatis waktu busi menyala akan kian jauh dari titik puncak. Maka akan terjadi kerugian mekanis, dikarenakan masih ada sedikit tekanan dari pembakaran saat piston sedang bergerak menuju TMA.

Agak sulit dibayangkan memang, karena hal tersebut selalu terjadi pada titik kritis pembakaran. Maka untuk dapat bekerja sempurna, SKYACTIV-X ini diperlukan beberapa sensor. Diantaranya sensor untuk mengukur tekanan pada ruang bakar, kondisi udara, bahan bakar yang digunakan, posisi throttle, kecepatan, dan sebagainya. Di sisi lain, juga ada kelemahan dalam sistem yang complicated ini, yakni penyesuaian yang harus dilakukan ketika teknologi ini akan masuk Indonesia. Seperti yang kita tahu, bensin dengan oktan dibawah 90 akan sulit ditemui di Indonesia.

>>> Baca juga: Mazda 3 dijual di seluruh Indonesia dengan harga memikat

Dengan diterapkannya teknologi SKYACTIV-X maka akan menyumbang peningkatan tenaga yang signifikan. Ambil contoh mesin SKYACTIV-X berkapasitas 2000 cc yang mampu menelurkan output hingga 188 Dk serta torsi 230 Nm. Coba pembaca setia CintaMobil.com bandingkan dengan mesin SKYACTIV-G yang sudah beredar di pasaran. SKYACTIV-G hanya mampu memuntahkan tenaga 146 Dk dan torsi 192 Nm. Dengan efisiensi sistem tersebut, SKYACTIV-X diprediksi mampu lebih hemat 30% dalam penggunaan bahan bakar. Dengan kata lain Mazda SKYACTIV-X juga menjadi pemecah logika mekanik dalam berpikir.

 Teknologi SKYACTIV-X juga meliputi rangka kendaraan

Mazda KAI Concept, preview Mazda 3 generasi mendatang

Mazda KAI Concept, preview Mazda3 generasi mendatang

Arfian Alamsyah

Ulasan anda

Apakah artikel ini bermanfaat untuk Anda?
0