Mau Pakai Pelat Nomor Cantik, Ini Ketentuan dan Biayanya!

07/07/2019

Pengemudian

3 menit

Anda sering melihat kendaraan di jalanan dengan pelat nomor cantik dan unik tidak seperti umumnya. Penasaran? Anda juga bisa mendapatkan nomor cantik macam itu, tapi ada ketentuan yang harus dipenuhi.

Nomor Registrasi Kendaraan Bermotor (NRKB) kendaraan baru diproses melalui sistem yang sedemikian rupa sehingga menghasilkan Nomor Kendaraan yang berbeda satu dengan yang lain. Pemilik tinggal menunggu sampai proses selesai dan Nomor Kendaraan resmi menjadi miliknya selama tidak ada perubahan.

Karena alasan-alasan tertentu pemilik terkadang ingin kendaraannya punya pelat nomor berbeda dengan yang lain seperti biar mudah diingat, terkesan unik, atau menunjukkan sebuah identitas. Apakah ini bisa didapatkan? Bisa, wong nyatanya di jalanan juga banyak, orang menyebutnya pelat nomor cantik.

Foto menunjukkan Pelat nomor tanpa huruf belakang

Pelat Nomor Cantik juga harus melalui proses registrasi

>>> Ternyata Ada Fakta Menarik Dibalik Sejarah Plat Nomor Kendaraan Mulai Dari Paris Hingga Indonesia

Menurut Kasubdit Regident Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Sumardji, pemilik kendaraan bisa menggunakan nomor yang diinginkannya saat melakukan registrasi kendaran bermotor. Namun sebelumnya harus memahami bahwa penggunaan nomor sendiri atau biasa disebut nomor cantik punya ketentuan-ketentuan yang berbeda dibanding Nomor Registrasi Kendaraan Bermotor (NRKB) pada umumnya. Termasuk juga yang berkaitan dengan biaya registrasi yang lebih mahal antara Rp 5 juta hingga Rp 20 juta,

"Jadi uang itu dibayar di awal ketika mendaftar dan berlaku selama lima tahun. Jika ingin menggunakan pelat nomor itu lagi maka harus membayar sesuai dengan jumlah pelat nomor yang dipakai," tutur AKBP Sumardji seperti dikutip dari Kompas, (4/7/2019).

Keputusan Kepala Korps Lalu Lintas Polri Nomor KEP/62/XII/2016, 30 Desember 2016, Tentang Nomor Registrasi Kendaraan Bermotor Pilihan telah mengatur ketentuan-ketentuan terkait pelat nomor cantik pilihan sendiri, sebagai berikut:

  • NRKB pilihan berlaku selama lima tahun dan dapat diperpanjang lima tahun lagi, namun pada kode wilayah yang sama.
  • NTKB pilihan tidak berlaku apabila pemilik kendaraan bermotor dipindahtangankan kepada pihak lain atau mutasi ke luar wilayah.
  • NRKB pilihan tetap berlaku apabila pemilik kendaraan bermotor melakukan ubahan alamat, warna, dan mesin dalam kode wilayah yang sama.
  • Masa berlaku KRKB piluhan tercantum dalam surat keterangan NRKB Pilihan yang dikeluarkan oleh Ditlantas Polda atau Satlantas Polres/Ta/Tabes.
  • Perpanjang NRKB Pilihan dilakukan bersama dengan perpanjang STNK dan jatuh tempo masa berlaku disamakan dengan masa berlaku STNK.
  • Apabila kendaraan bermotor dipindahtangankan sebelum masa berlaku NRKB Pilihan habis, maka sisa masa berlaku akan habis, dan untuk penerbitan STNK yang baru dengan penerbitan NRKB Pilihan yang baru selama lima tahun.

>>> Ketahui Cara Dan Syarat Perpanjang STNK, Dijamin Lebih Mudah

Foto menunjukkan mobil menggunakan pelat nomor satu angka

Tarif NRKB 1 angka termahal dibanding yang lain

Sedangkan untuk besaran tarif yang dikenakan untuk Nomor Registrasi Kendaraan Bermotor (NRKB) telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2016 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berlaku pada Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai berikut:

NRKB

Tidak Ada Huruf Di Belakang

Ada Huruf Di Belakang

1 angka

Rp 20.000.000

Rp 15.000.000

2 angka

Rp 15.000.000

Rp 10.000.000

3 angka

Rp 10.000.000

Rp 7.500.000

4 angka

Rp 7.500.000.

Rp 5.000.000

Memang tidak murah, namun itu sebanding dengan kepuasan saat pemilik mengetahui kendaraannya memiliki nomor sesuai yang diinginkan dan pelat nomor cantik telah terpasang. Tertarik?

>>> Berbagai tips dan trik otomotif terpercaya hanya ada di Cintamobil.com

Penulis
Satu-satunya anggota redaksi yang berbasis di Jawa Tengah. Bergabung di Cintamobil.com sejak 2017 sebagai Content Writer. Saat ini, kerap menulis berbagai informasi seputar lalu lintas dan perkembangan transportasi di Indonesia.
 
back to top