Cara Jitu Menghindari Pajak Progresif Kendaraan Bermotor

20/01/2020

Pengemudian

3 menit

Cara Jitu Menghindari Pajak Progresif Kendaraan Bermotor
Beratnya kena pajak progresif kendaraan bermotor karena harus membayar dengan nominal lebih tinggi. Jangan khawatir, Anda bisa kok menghindari pajak progresif!

Memiliki kendaraan bermotor membawa satu konsekuensi, pemiliknya wajib membayar pajak setiap tahun dengan nominal sesuai yang sudah ditetapkan. Biasanya tarif dicantumkan pada lembar Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) berikut tanggal jatuh temponya. Nominal pajak kendaraan bermotor akan bertambah besar kalau Anda terkena pajak progresif. Yaitu pajak yang dibebankan kepada pemilik kendaraan bermotor, baik berupa mobil maupun sepeda motor, jika jumlah kendaraannya lebih dari satu dengan identitas kepemilikan yang sama, atau dengan nama anggota keluarga yang tinggal di satu alamat.

Besar Tarif Pajak Progresif

Foto Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor

Makin banyak punya mobil makin besar pajak yang harus dibayarkan

Sesuai Pasal 6 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, pajak progresif kendaraan bermotor dikenakan mulai kepemilikan kedua dan seterusnya dengan penambahan tarif mulai 0,5 per kepemilikan baru hingga maksimal 10 persen. Sedang untuk kepemilikan pertama masih menggunakan tarif dasar yaitu terendah 1 persen dan tertinggi 2 persen.

Khusus wilayah DKI Jakarta, aturan pajak progresif diperkuat dengan PP No. 2 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pajak Kendaraan Bermotor.

"Pengenaan pajak progresif didasarkan Kartu Keluarga (KK) atau atas nama dan/atau alamat yang sama. Di Jakarta, kepemilikan pertama dikenakan tarif sebesar 2 persen, dan bertambah 0,5 persen sampai kepemilikan ke-17 atau sebesar 10 persen," tutur Ketua Badan Pajak dan Retribusi Daerah (BPRD) DKI Jakarta, Faisal Syafruddin, seperti dikutip dari Kompas.

>>> Berlaku Mulai 2020, Pajak STNK Tidak Dibayar 2 Tahun Bakal Diblokir

Lebih jelasnya berikut tabel persentase pajak progresif kendaraan bermotor untuk wilayah DKI Jakarta sesuai PP tersebut:

Urutan Kepemilikan Tarif Pajak
Kendaraan Pertama 2%
Kendaraan Kedua 2,5%
Kendaraan Ketiga 3%
Kendaraan Keempat 3,5%
Kendaraan Kelima 4%
Kendaraan Keenam 4,5%
Kendaraan Ketujuh 5%
Kendaraan Kedelapan 5,5%
Kendaraan Kesembilan 6%
Kendaraan Kesepuluh 6,5%
Kendaraan Kesebelas 7%
Kendaraan Kedua Belas 7,5%
Kendaraan Ketiga Belas 8%
Kendaraan Keempat Belas 8,5%
Kendaraan Kelima Belas 9%
Kendaraan Keenam Belas 9,5%
Kendaraan Ketujuh Belas 10%

Untuk nominal Rupiah-nya berbeda-beda tergantung Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB), koefisien PKB, serta tarif pajak kendaraan itu sendiri. Jika Anda tidak ingin pusing berhitung Anda bisa lihat nominalnya yang tertera di STNK, atau bisa bertanya ke SAMSAT terdekat untuk mendapatkan perincian dan penjelasan yang lebih mendetail.

>>> Punya Mobil Banyak? Ini Dia Cara Menghitung Pajak Progresif Mobil Yang Benar Dan Lengkap

Foto garasi Inul Daratista yang penuh mobil mewah

Berani mobil berani bayar pajak

Menghindari Pajak Progresif

Anda mungkin berpikir apa bisa menghindari pajak progresif agar beban pajak tidak makin besar. Mempertimbangkan aturan yang ada, cara paling jitu menghindari pajak progresif jika ingin tetap menggunakan nama sendiri adalah cukup memiliki satu unit untuk satu golongan kendaraan bermotor. Misalnya 1  unit sepeda motor, 1 unit mobil, dan 1 unit truk.

Manfaatkan angkutan massal untuk menghindari ketergantungan dengan kendaraan pribadi, sehingga Anda tidak berpikir harus memiliki kendaraan lagi.

>>> First Impression VW Tiguan Allspace 2019: SUV Keluarga Jerman Value for Money

>>> Berita terlengkap dari dunia otomotif hanya ada di Cintamobil.com

Penulis
Satu-satunya anggota redaksi yang berbasis di Jawa Tengah. Bergabung di Cintamobil.com sejak 2017 sebagai Content Writer. Saat ini, kerap menulis berbagai informasi seputar lalu lintas dan perkembangan transportasi di Indonesia.
 
back to top