Beda Karakter, Inilah Keunggulan Dan Kelemahan Penggerak Roda Depan Dan Belakang

31/03/2019

Pengemudian
Share this post:
Beda Karakter, Inilah Keunggulan Dan Kelemahan Penggerak Roda Depan Dan Belakang
Perdebatan tentang siapa yang lebih baik, penggerak roda depan atau belakang menjadi hal yang abadi di mata car enthusiast. Padahal baik penggerak roda depan atau belakang memiliki karakter, kelebihan, kelemahan dan kegunaan masing-masing

Pilihan mobil dengan penggerak roda depan atau penggerak roda belakang, selalu menjadi perbincangan hangat, terutama calon konsumen dalam memilih mobil idamannya. Umumnya, mobil modern menganut penggerak roda depan lantaran beberapa pertimbangan. Namun ada juga APM yang masih menawarkan lini produknya dengan penggerak roda belakang.Kemunculan new Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia kembali mengangkat perdebatan tentang siapa yang lebih baik antara pengerak roda depan atau depan di mata calon konsumen. Terlebih saat spesifikasi kedua MPV ‘sejuta umat’ tersebut mulai terkuak publik, yakni dengan mempertahankan penggerak roda belakang.

Toyota Avanza Veloz warna putih sedang terparkir

Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia menjadi LMPV yang masih mempertahankan penggerak roda belakang hingga kini

>>> Simak juga:

Padahal, hampir semua kompetitornya sudah menganut penggerak roda depan. Lantas, apa perbedaan antara penggerak depan dan belakang? Apa kelebihan dan kekurangan sistem penggerak masing-masing? Yuk, kita mengenal lebih jauh tentang perbedaan antara mobil dengan penggerak roda depan atau penggerak roda belakang yang Cintamobil.com hadirkan berikut ini.

Penggerak roda depan

Penggerak roda depan atau biasa disebut dengan Front Wheel Drive (FWD) merupakan sistem penggerak yang mentrasfer tenaga mesin ke kedua roda depan. Sistem penggerak roda depan awalnya digunakan pada sedan dan mobil kompak, lantaran memiliki keunggulan tertentu. Keunggulan yang pertama adalah efisiensi. Penggerak roda depan memungkinkan tenaga mesin dapat sampai pada roda secara efisien dan optimal. Hal tersebut dikarenakan lay-out penggerak roda depan lebih ringkas ketimbang roda depan. “Posisi mesin, girboks dan penggerak di depan semua, jadi tenaga dapat langsung dikirim ke roda depan, jadi lebih efisien. Selain itu respon mesin juga lebih baik lantaran tenaga mesin tak banyak tereduksi lantaran melewati banyak komponen,” ujar Agung Saputro, Workshop Manager Honda Megatama, Kalimalang, Jakarta Timur.

Anatomi mobil dengan penggerak roda depan

Umumnya penggerak roda depan menganut konstruksi mesin melintang (transverse), meski ada pula penggerak roda depan dengan mesin membujur (longitudinal)

>>> Tips Mengatasi Understeer Saat Berkendara

Lantaran konstruksinya yang lebih ringkas, maka bobot mobil secara keseluruhan pun dapat terpangkas, sehingga konsumsi bahan bakar pun bisa lebih efisien. Posisi mesin pada penggerak roda depan umumnya melintang (tranverse), juga membuat ruang mesin dapat dibuat lebih kompak. Tujuannya, kabin mobil pun bisa dibuat lebih optimal dan lega. “Firewall dapat dibuat menjorok ke depan. Selain itu, penggerak depan enggak ada terowongan transmisi dan as kopel, sehingga lantai kabin dapat dibuat lebih rata,” tambah Agung.

anatomi komponen pada sistem penggerak roda depan

Penggerak roda depan memiliki konstruksi yang terfokus di depan, mulai dari mesin, girboks hingga as roda

Namun dengan segela keunggulannya tersebut, penggerak roda depan juga memiliki kelemahan, yakni kerja roda depan yang lebih berat, lantaran fungsinya sebagai penggerak dan juga kemudi. “Beban kerja differensial, suspensi dan kemudi roda depan lebih berat karena semua tertumpu di depan,” ujar Mizan Allan de Neve, desainer dan engineering otomotif. Hal tersebut berpengaruh pada usia pakai beberapa komponen pada penggerak roda depan, salah satunya CV joint drive shaft yang mudah termakan usia. Dalam urusan handling, mobil depan penggerak roda depan lebih cenderung understeer. Hal tersebut dikarenakan bobot lebih berpusat di depan. “Jadi handling jadi terasa lebih sensitif dan cenderung understeer,” ujar Mizan.

Penggerak roda belakang

Penggerak roda belakang atau juga dikenal dengan istilah Rear Wheel Drive (RWD) merupakan sistem penggerak yang menstrasfer tenaga mesin ke sepasang roda belakang. Kelebihannya yang paling mencolok adalah distribusi bobot, lantaran posisi mesin di depan, girboks dan drive shaft (as kopel) di tengah dan differensial di belakang. Karena distribusi bobot yang lebih ideal ini, penggerak roda belakang memiliki handling yang lebih baik namun cenderung understeer. “Makanya penggerak roda belakang identik dengan handling yang lebih fun to drive, maka dari itu sports car rata-rata menganut penggerak roda belakang,” tambah Mizan.

Anatomi mobil dengan penggerak roda belakang

Penggerak roda belakang memiliki distribusi bobot lebih ideal, dengan posisi mesin di depan, girboks di tengah dan axle/gardan di belakang

>>> Ingin merasakan sportscar penggerak belakang yang terjangkau? Cek Toyota 86 dengan kondisi dan harga terbaik hanya di Cintamobil.com

Selain itu, fungsi roda depan hanya berfokus pada kemudi dan roda belakang hanya untuk penggerak, sehingga beban kerja pada masing-masing roda juga dapat terdistribusi lebih optimal. Efeknya, usia pakai pada komponen suspensi, kemudi dan penggerak dapat lebih panjang.Pada mobil dengan penggerak roda belakang juga lebih mumpuni ketika melahap tanjakan curam. Karena roda penggerak letaknya di belakang, membuat ban tak mudah kehilangan traksi saat menanjak di tanjakan yang curam. “Pada posisi menanjak, bobot akan cenderung ke belakang, yang membuat penggerak depan mudah kehilangan traksi,” terang Agung.

Ilustrasi penggerak roda depan dan belakang serta karakter handlingnya

Penggerak roda depan memiliki karakter lebih dominan understeer, sementara penggerak roda belakang lebih dominan oversteer

>>> Simak kumpulan tips mengemudi terkini di Cintamobil.com

Namun di balik keunggulannya tersebut, penggerak roda belakang juga memiliki beberapa kelemahan. Pertama adalah efisiensi penyaluran tenaga. Karena posisi mesin di depan, maka tenaga akan disalurkan ke roda belakang via beberapa komponen, seperti girboks dan drive shaft atau as kopel hingga differensial atau gardan belakang. Perjalanan panjang tersebut membuat tenaga mesin banyak ‘terserap’ sebelum mencapai roda belakang. “Tenaga dari mesin ketika sampai di roda belakang akan tereduksi hingga mencapai 30 persen,” tambah Agung. Pada penggerak roda belakang, umumnya mesin menganut lay-out longitudinal atau membujur, sehingga membutuhkan ruang mesin lebih besar. Belum lagi lantai kabin akan disesaki dengan terowongan untuk transmisi dan drive shaft (as kopel). Hal tersebut akan mengkompensasi dimensi dan kelegaan kabin.

>>> Tips & Trik otomotif lainnya bisa dilihat di sini

Share this post:
 
back to top