Awas, Penggunaan Klakson Tak Beretika Bisa Jadi Sumber Petaka

27/06/2019

Pengemudian

2 menit

Awas, Penggunaan Klakson Tak Beretika Bisa Jadi Sumber Petaka
Jadi salah satu piranti paling penting pada kendaraan, penggunaan klakson terkadang juga jadi sumber petaka karena dilakukan tidak sesuai aturan atau dengan cara yang kurang beretika.

Klakson merupakan salah satu piranti keselamatan yang tidak boleh tertinggal pada setiap produk kendaraan bermotor. Dengan klakson pengemudi bisa berkomunikasi dengan pengemudi lain maupun pengguna jalan yang lain. Hal tersebut penting untuk meminimalkan hal-hal buruk seperti kecelakaan. Sebagai alat komunikasi, penggunaan klakson tentu harus dilakukan dengan cara-cara yang baik dan santun agar tidak menimbulkan persepsi negatif bagi orang lain.

Nah, pada kenyataannya masih banyak pengendara yang menggunakan klakson semaunya sendiri dengan membunyikannya secara berlebihan. Entah dengan niatan baik atau tidak, hal ini bisa menimbulkan persepsi negatif bagi pengendara lain bahkan bisa jadi awal terjadinya konflik di jalan raya. Membunyikan klakson berlebihan bisa dianggap sebagai bentuk intimidasi untuk pengendara lain dan dianggap sebagai bentuk kesombongan.

>>> Klakson Mati, Cek Dulu 5 Bagian Ini!

Ilustrasi menggunakan klakson mobil

Klakson tidak boleh digunakan secara sembarangan

Selain itu, ada juga penggunaan klakson tidak sesuai aturan karena sudah dimodifikasi hingga bunyinya terlalu keras melebihi aturan yang diperbolehkan. Memang membuat orang langsung tahu kalau ada kendaraan yang melintas, tapi dengan bunyinya yang memekakkan telinga bisa saja membuat orang lain kaget. Kalau dia adalah pengemudi bisa saja kehilangan konsentrasi hingga berakibat celaka.

>>> Ingin membeli mobil Toyota terbaru? Dapatkan daftarnya di sini

Sebenarnya untuk soal klakson ini sudah diatur melalui Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2012 Pasal 39. Di situ disebutkan klakson harus mengeluarkan bunyi dan digunakan tanpa mengganggu konsentrasi pengemudi. Sedangkan untuk aturan besaran suara diatur pada pasal lainnya, yaitu Pasal 69. Di situ disebutkan Suara klakson paling rendah adalah 83 (delapan puluh tiga) desibel dan paling tinggi 118 (seratus delapan belas) desibel.

"Hal yang banyak terjadi sekarang menggunakan klakson sesuka mungkin, seringnya saat lampu rambu lalu lintas bergerak ke kuning dari merah, sudah klakson-klakson. Lalu saat pengendara itu sedang buru-buru," tutur Jusri Pulubuhu, pendiri dan instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu seperti dikutip dari Kompas, (23/6/2019).

>>> Jangan Sembarang Menekan, Berikut Peraturan Memakai Klakson

Foto tiga orang berkelahi di jalan raya yang sedang ramai

Konflik di jalan raya terkadang dipicu masalah sepele

Karena itu Jusri menyarankan agar penggunaan klakson dilakukan secara bijak dan beretika. Seperti saat hendak menyalip kendaraan lain, ada kendaraan lain mau keluar dari gang, saat ada kendaraan di depan kelihatan mundur mau menabrak, atau saat merasa pengemudi kendaraan di depan seperti kehilangan konsentrasi karena kendaraanya terlalu kiri hingga bahu jalan atau terlalu kanan mendekati sparator.

>>> Baca tips Cintamobil.com lainnya di sini!

Penulis
Satu-satunya anggota redaksi yang berbasis di Jawa Tengah. Bergabung di Cintamobil.com sejak 2017 sebagai Content Writer. Saat ini, kerap menulis berbagai informasi seputar lalu lintas dan perkembangan transportasi di Indonesia.
 
back to top