3 Kebiasaan Berkendara Orang Jepang yang Unik dan Bisa Ditiru

31/03/2021

Pengemudian

5 menit

Tiap negara punya aturan lalu lintas masing-masing. Pun dengan kebiasaan berkendara orang Jepang yang bisa dibilang unik dan dapat dipraktikan saat berkendara.

Setiap negara punya aturan lalu lintasnya masing-masing. Tentunya aturan lalu lintas tersebut pastinya sudah disesuaikan dengan kondisi jalan maupun kebiasaan warganya setempat dan dibuat agar semua pengguna jalan bisa tertib.

Salah satu negara yang warganya tertib berlalu lintas adalah Jepang. Tertibnya warga Jepang dalam berlalu lintas bahkan sudah mendunia. Setidaknya ada tiga kebiasaan berkendara orang Jepang yang bisa dicontoh oleh pengendara di Indonesia supaya lebih tertib berlalu lintas. Apa saja ya? Simak penjelasannya seperti dikutip Cintamobil dari laman Car From Japan. 

>>> Mobil Transmisi Manual Masih Dicintai, Ini Sebabnya

1. Etika Membunyikan Klakson

Tak ada aturan yang mengikat kalau bicara membunyikan klakson. Tiap negara memang memiliki kebiasaan membunyikan klakson yang berbeda-beda. Di Jepang etika membunyikan klaksonnya terbilang unik. Mereka membunyikan klakson dengan maksud tertentu. Bunyi klakson singkat sebanyak satu atau dua kali berarti rasa terima kasih kepada pengendara lain lantaran telah memberikan jalan. 

Sedangkan kalau klakson dibunyikan lama dan panjang itu mengekspresikan kemarahan dan meminta pengendara tersebut keluar dari jalur tersebut. Setidaknya kebiasaan berkendaran orang Jepang ini bisa ditiru masyarakat Indonesia. 

Kalau diperhatikan masih ada pengendara yang tak bijak dalam membunyikan klakson. Di sisi lain bunyi klakson bisa mengganggu pengendara dan pengguna jalan lainnya. 

membunyikan klakson

Jangan bunyikan klakson asal-asalan

Ya, membunyikan klakson sebaiknya tak dilakukan asal-asalan. Klakson sendiri memiliki fungsi sebagai alat untuk berkomunikasi antara pengemudi mobil yang satu dengan lingkungan sekitarnya, baik pengendara lain maupun pejalan kaki. Melalui isyarat bunyi yang dihasilkan oleh klakson inilah cara seorang pengemudi berkomunikasi saat di jalan raya.

Nama klakson diambil dari Bahasa Yunani, klaxo yang artinya menjerit. Oleh sebab itu dalam penggunaannya pun tidak bisa sembarangan karena suara yang dihasilkan klakson ini akan cukup kencang.

Klakson pada mobil didesain dengan tingkat kebisingan tertentu, sehingga bisa digunakan untuk simbol menyapa atau peringatan. Dalam peraturan pemerintah, suara klakson ini harus dapat terdengar dalam jarak 60 meter dengan rentang bunyi paling rendah berada di 83 desibel (dB) dan maksimal di 118 dB. Di mana manusia normal mampu mendengar suara berfrekuensi 20-20.000 Hz dengan tingkat kekerasan di bawah 80 dB.

Namun, klakson bisa juga untuk menunjukkan rasa amarah atau emosi si pengendara terhadap pengguna jalan lain dan bahkan kerap memicu pertikaian antara pengendara atau pengguna jalan. Itu sebabnya dalam membunyikan klakson ini ada etikanya, tidak asal pencet terus menerus dan membuat orang di sekitar Anda menjadi terganggu.

Tapi ada juga area di mana Anda tidak boleh membunyikan klakson ya, biasanya ditandai dengan rambu lalu lintas yang berupa gambar terompet dicoret. Umumnya area yang ada rumah ibadah dan juga rumah sakit akan ada rambu larangan ini.

Begitu juga ketika sudah malam hari, etikanya lebih baik tidak membunyikan klakson namun hanya cukup dengan menggunakan lampu jauh saja sebagai isyarat pengganti klakson. Nah kebiasaan berkendara orang Jepang dalam hal klakson ini bisa ditiru nih!

>>> Oleh-oleh Menperin dari Pabrikan Jepang untuk Industri Otomotif Indonesia

2. Etika saat Parkir

parkir mobil

Pengendara di Jepang biasa parkir mundur

Pasti Anda semua setuju kalau pengendara harus juga belajar memarkir mobil dengan baik. Tak bisa dipungkiri hingga saat ini masih banyak pengendara yang tidak paham saat memarkir. Ada yang memarkir terlalu dekat hingga memarkir di antara dua garis tak semestinya. 

Bagaimana dengan pengendara di Jepang? Saat memarkir mobil di sebuah toko, biasanya si pemilik toko akan memberi tahu kepada pengendara untuk memarkir mundur. Tujuannya agar tak sulit saat nanti akan keluar. Di samping itu, dengan parkir mundur juga Anda dapat melihat garis batas dengan jelas. Dengan begitu, kesalahan saat memarkir dapat diminimalisir.Tapi rupanya petunjuk serupa juga terlihat di sejumlah tempat. Kebiasaan berkendara orang Jepang tersebut di satu sisi juga bisa meningkatkan keamanan pada mobil. 

3. Etika Menggunakan Lampu

Foto menunjukkan seorang pengemudi merasa silau dengan lampu kendaraan lain

Penggunaan lampu tak bisa sembarangan

Berebut tempat parkir tampaknya merupakan hal lumrah yang dialami pengendara. Untuk menghindari keributan karena berebut tempat parkir, para pengendara di Jepang biasanya menggunakan lampu sebagai tanda bahwa mereka ingin menempati tempat parkir di sebuah tempat. 

Caranya, pengendara cukup menyetop mobil, memberikan tanda lampu jauh, mundurkan mobil dan tempat itu menjadi milik Anda. Di samping itu, mereka juga menggunakan lampu jauh ini sebagai ucapan rasa terima kasih lantaran diberikan jalur di jalan. 

>>> Pemerintah Rayu Produsen Jepang Biar Bisa Ekspor Mobil ke Australia

Penulis
Berpengalaman sebagai jurnalis otomotif sejak 2016 di media mainstream ternama di Indonesia, Dina juga pernah menguji beragam jenis mobil dan mengunjungi pameran otomotif dunia. Saat ini Ia dipercaya sebagai Editor redaksi Cintamobil sejak awal 2020
 
back to top