Setiap Hari Kecelakaan Terjadi di Tol Cipali, Ini Penyebabnya

24/08/2021

Pasar mobil

3 menit

Share this post:
Kecelakaan di Tol Cipali kerap terjadi setiap hari dan belum juga terhindarkan. Apa penyebab kecelakaan tabrak depan dan belakang masih terjadi di Cipali?

Kecelakaan kerap terjadi di jalanan Indonesia. Salah satu lokasi yang cukup sering terjadi kecelakaan adalah Tol Cipali. Dalam catatan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dari PT ALMS, pada April 2021 kecelakaan di tol Cipali terjadi setiap hari. Tentu hal ini menimbulkan banyak pertanyaan. Mengapa hal itu masih terus berlangsung? 

Rupanya biang keladinya adalah kecepatan. Jarak kecepatan antara satu kendaraan dan kendaraan lainnya sangat besar sehingga berpotensi terjadinya tabrak depan dan belakang. 

Foto jalan Tol Cipali dari kejauhan

Kecelakaan masih sering terjadi di Cipali

>>> Tak Ingin Tragedi Tol Cipali Terulang, Kemenhub Wacanakan Sekat Untuk Sopir

Angka Fatalitas Kecelakaan di Cipali Tinggi

"Tabrak depan belakang di Tol Cipali 36 kasus rata-rata per bulan. Artinya tiap hari terjadi tabrak depan belakang dengan fatalitas 97%, artinya 97% orangnya meninggal penyebabnya gap kecepatan dengan yang cepat dan lambat," ungkap Senior Investigator KNKT Wildan belum lama ini. 

Dijelaskan Wildan, maksimal gap kecepatan untuk menghindari kecelakaan adalah 30 km/jam sesuai dengan International Road Safety (IRF). Namun yang terjadi di Cipali perbedaan jarak kecepatannya justru tiga kali lipat lebih kencang. Perbedaan jarak tempuh yang terlalu besar ini memicu maraknya kecelakaan di Tol Cipali tersebut. 

"Di atas 30 km/jam risiko tabrak depan belakang akan meningkat setiap peningkatan 10 km/jam Pada saat KNKT dan Balitbang survei terkejut saya ternyata gap kecepatan di Cipali bisa mencapai 100 km/jam," tambah Wildan.

Selain itu minimnya pencahayaan pada truk juga dituding menjadi penyebab lainnya. Tak bisa dipungkiri, masih ada sopir truk yang abai akan keselamatan di jalan. Salah satu contohnya dengan membiarkan lampu belakang mati dan tak segera menggantinya. 

>>> Di Indonesia, Setiap 1 Jam 3 Orang Meninggal karena Kecelakaan Lalu Lintas

Foto bus yang mengalami kecelakaan menabrak truk tanki air

Tabrak depan dan belakang masih mendominasi di Cipali

Truk Diharapkan Segera Memiliki Rear Under Run Protection

Padahal, bila malam hari datang ini sudah tentu sangat berbahaya bagi truk itu sendiri maupun pengguna jalan lain. Minimnya pencahayaan di malam hari membuat pengendara harus ekstra waspada agar kecelakaan bisa dihindari. 

"Truk-truk kita itu belakangnya sebagian besar nggak terlihat kalau malem pada saat mengendarai 100 km/jam jarak aman kita minimal 60 meter, sementara truk baru terlihat pada jarak 10 meter, sehingga semua pengemudi yang berlari 100 km/jam ketemu truk seperti ini sudah telat dan tak terhindar dan nabrak," imbuh Wildan

"Sehingga saya nggak kaget angka fatalitas 97%, semua mobil yang menghantam kolong truk maka langsung menghantam ke wajah pengemudi. Crash protection box dan airbagnya nggak akan berfungsi karena pengemudi langsung bertemu dengan sasis truk," beber Wildan.

Guna menekan angka kecelakaan di Cipali, Kementerian Perhubungan juga tengah mencanangkan agar truk dibekali dengan under run protection sesuai dengan regulasi yang diterbitkan. Rear under run protection pada truk diharapkan bisa memberikan peringatan kepada pengendara bila jaraknya sudah terlalu dekat dengan truk di depannya. 

Menjadi jurnalis otomotif di salah satu media ternama di Indonesia sejak 2016 dan telah memiliki ragam pengalaman menguji mobil hingga mengunjungi pameran otomotif tingkat dunia. Bergabung sebagai Editor di Cintamobil sejak tahun 2020.

Lulusan Universitas Trisakti ini mengawali karir sebagai jurnalis di kanal ekonomi di salah satu media ternama di Indonesia sejak 2015. Kemudian pada tahun 2016, dipercaya untuk mengisi kanal otomotif. Sebagai jurnalis di bidang otomotif, tentu dituntut untuk mengetahui ragam informasi yang berkaitan dengan mobil, motor, hingga lalu lintas kendaraan. Pun demikian dengan aturan lalu lintas yang berlaku saat ini. 

Tidak cuma memiliki pengetahuan soal industri otomotif Tanah Air, bekerja di media mainstream artinya dituntut juga untuk menyajikan berita secara cepat dan akurat. 

Dengan kemampuan yang dimiliki, sejak saat itu pula mulai dipercaya untuk mengetes ragam mobil baru di Indonesia maupun luar negeri. Adapun ragam mobil yang pernah dicoba antara lain di kelas LCGC, Low MPV, SUV, mobil listrik murni hingga Supercar sekelas Ferrari.

Tak cuma itu, aneka pameran otomotif berskala nasional dan internasional di berbagai negara juga telah dihadirinya. Pada tahun 2020, memutuskan untuk bergabung dengan Cintamobil.com sebagai Editor.

Experience

  • Tokyo Auto Salon 2019
  • Geneva International Motor Show 2017
  • GIIAS 2016, 2017, 2018, 2019
  • IIMS 2017, 2018, 2019
  • IMOS 2016, 2018
 
back to top