Semprot Disinfektan di Jalan Dinilai Buang-buang Waktu, Uang dan Energi

08/07/2021

Pasar mobil

3 menit

Pakar penyakit menular dari University of Maryland, AS, Dr Faheem Younus mengatakan bahwa semprot disinfektan di jalan buang-buang waktu, uang dan energi.

Pakar penyakit menular dari University of Maryland, AS, Dr Faheem Younus mengatakan bahwa melakukan aktivitas semprot disinfektan di jalan yang dilakukan di Indonesia merupakan hal yang percuma. 

>>> Penutupan Jalan PPKM Darurat Ditambah Jadi 651 Titik

Buang-buang Waktu, Uang dan Energi

Melalui akun Twitter pribadinya @FaheemYounus ia menuliskan sebuah tweet dalam Bahasa Indonesia mengunggah empat buah foto yang memperlihatkan proses penyemprotan disinfektan di jalan. Dia mengatakan bahwa hal tersebut benar-benar buang-buang waktu, uang, dan energi.

Gambar menunjukan Destinfektan

Penyemprotan disinfektan di jalan dinilai percuma

"Benar-benar buang-buang waktu, uang, dan energi Panah bawah (Menunjuk aktivitas  penyemprotan disinfektan di jalan). Desinfeksi permukaan tidak diperlukan di jalan dan ruang terbuka. Rumah sakit dan kamar dengan pasien Covid adalah cerita lain." kata Faheem pada sebuah postingan tweet Selasa, 6 Juli 2021.

Tweet tersebut kini sudah mendapatkan 24,7 ribu retweet, 3.254 kutipan tweet dan 48,1 ribu disukai. Netizen Indonesia yang dikenal aktif di sosial media pun ikut mengomentari postingan Dr Faheem tersebut.

"Dokter Faheem Younus ini pasti udah capek liat Indo kok ga pinter-pinter menangani covid." kata netizen.

Gambar menunjukan Denstinfektan

 Desinfektan jika mengenai kulit berbahaya karena tidak diperuntukan untuk kulit manusia

"Kalau mau menyalahkan keadaan yang lalu di masa sekarang, itu hanya akan memperkeruh suasana. Tapi kalau diinget-inget memang menyebalkan, sih. Anggarannya mahal hanya untuk hal yang nggak berguna." komen netizen yang lain.

"Kalau di Indonesia sengaja dok biar ada anggaran keluar, seharusnya pemerintah fokus tracing, test, vaccines. Cuman dari pemerintah Indonesia saja yang selalu buang-buang anggaran melakukan hal-hal yang mubazir itu." tambah netizen mengomentari tweet tersebut.

>>> Begini Cara Menjaga Reflektor Headlamp Mobil Lawas

Desinfektan Berbahaya Jika Mengenai Kulit

Sementara itu Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), Prof Dr rer nat Fredy Kurniawan MSi  mengatakan bahwa penyemprotan disinfektan di jalanan tidak direkomendasi. Sebab sudah tidak efektif lagi bakterinya tidak akan mati.

"Sudah tidak efektif lagi, disemprot dengan konsentrasi berapa, yang tersebar berapa bakterinya ndak mati. Bisa-bisa menjadi mutagen atau mutasi malah lebih tebal karena sudah sering dikasih itu (disinfektan)," kata Fredy dikutip dari detikcom, Senin (30/3/2020).

Gambar penyemprotan disinfektan di jalan

Fredy menambahkan bahwa penyemprotan desinfektan jika mengenai kulit juga bisa berbahaya. Hal ini dinilai karena tidak diperuntukan untuk kulit manusia.

"Karena bahan kimianya tidak diperuntukkan untuk itu (terkena kulit)," tutupnya

>>> Renault Kiger 2021 Sudah Bisa Dipesan, Pesaing Serius Raize di Indonesia

Rahmat menjadi jurnalis otomotif media daring sejak 2014 silam. Tercatat Rahmat bergabung dengan tim redaksi Cintamobil.com sejak 2019 hingga saat ini. 

Lulusan jurusan Sastra Indonesia ini sejak awal kuliah memang bercita-cita menjadi seorang jurnalis. Sebelum berkiprah di media yang berfokus di Industri otomotif, Rahmat terlebih dulu menulis untuk sebuah majalah sebuah media lokal di Kota Tangerang Selatan.

Setelah setahun lamanya menulis untuk sebuah majalah lokal akhirnya ia berpindah menulis untuk sebuah media daring otomotif. Tepatnya di tahun 2014 ia mulai menulis berkaitan dengan industri otomotif nasional dalam dan juga luar negeri. 

Setelah lulus kuliah di tahun 2017 ia memutuskan untuk keluar dari dunia kewartawanan yang selama ini menghidupinya. Ia mencoba peruntungan dunia marketing mobil bekas. Tak lama berselang ia mencoba peruntungan bekerja di Cintamobil.com pada posisi yang sama. Tak lama setelah itu Rahmat dipindahkan ke tim redaksi Cintamobil.com

Orang bijak pernah berkata rumah bukan sebuah tempat, melainkan perasaan. Sejauh manapun Anda melangkah rumah adalah tempat untuk kembali. Kira-kira seperti itulah yang menggambarkan nasib Rahmat yang akhirnya bisa kembali ke dunia penulisan. 

 
back to top