Pelopor Baterai Ion Litium Menangkan Hadiah Nobel 2019 Pada Kategori Kimia

15/10/2019

Pasar mobil

4 menit

Pelopor Baterai Ion Litium Menangkan Hadiah Nobel 2019 Pada Kategori Kimia
Digunakan dalam segala hal mulai dari laptop, smartphone, hingga kendaraan Tesla. Baterai ion litium yang dapat diisi ulang, memainkan peran penting dalam masyarakat modern.

Hadiah Nobel 2019 pada kategori Kimia telah diberikan kepada tiga ilmuwan untuk perannya dalam pengembangan baterai ion litium. Ketiganya dinilai sebagai pelopor masa depan teknologi yang lebih baik.

>>> Review Tesla Model X 2019: SUV Premium Mewah Ramah Lingkungan

Goodenough, Whittingham, Yoshino gambar

Dari kiri Goodenough, Whittingham dan sebelah kanan Yoshino

Ketiga ilmuan itu ialah John B Goodenough dari The University of Texas di Austin, M Stanley Whittingham dari Binghamton University, State University of New York, dan Akira Yoshino dari Asahi Kasei Corporation dan Meijo University di Jepang.

Whittingham dinilai telah meletakkan dasar untuk teknologi baterai selama krisis minyak pada 1970-an. Penelitiannya tentang superkonduktor katoda merupakan penemuan inovatif dalam baterai ion litium, meskipun baterai pertama terlalu eksplosif untuk dapat bertahan.

Sedangkan Goodenough membuat terobosan kritis pada tahun-tahun berikutnya setelah memprediksi bahwa katoda akan memiliki potensi yang lebih besar dari oksida logam, memasangkan kobalt oksida dengan ion lithium untuk mencapai tegangan lebih tinggi yang diperlukan untuk baterai yang lebih kuat.

>>> Rumor: Masa Depan BMW Seri 7 EV Didukung Baterai 120 kWh Serta Daya 670 HP

baterai lithium-ion  dari mobil listrik

Penggunaan baterai ion litium pada mobil listrik

>>> Harga mobil terbaru dari beberapa merek mobil di indonesia

Akhirnya, pada tahun 1985, Akira Yoshino menggunakan katoda yang dikembangkan dari laboratorium Goodenough untuk menciptakan baterai ion litium yang layak secara komersial. Teknologi ini dinilai sangat vital dalam memberi daya dalam pengembangan baterai ion litium.

"Baterai ion litium telah merevolusi kehidupan kita sejak pertama kali memasuki pasar pada tahun 1991," tulis Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia. "Mereka telah meletakkan dasar dari masyarakat tanpa bahan bakar fosil, dan merupakan manfaat terbesar bagi umat manusia." tandasnya.

Banyak ilmuwan lain saat ini sedang mengejar 'terobosan' teknologi baterai tambahan untuk bisa bertransisi dari pengembangan laboratorium ke produksi massal. Ketiga peraih nobel tersebut akan mendapatkan hadiah 9 juta krona Swedia (Rp 12,7 miliar) akan dibagi rata antara tiga penerimanya.

>>> Berita terupdate dan terlengkap tentang dunia otomotif hanya di situs Cintamobil.com

Sejak kuliah, Rahmat telah bercita-cita menjadi seorang jurnalis. Sarjana Sastra Indonesia ini mulai menjadi jurnalis sejak 2013 dan terjun di media otomotif setahun kemudian. Rahmat bergabung dengan tim redaksi Cintamobil.com sejak 2019.
 
back to top