Mobil China di Indonesia dan Ambisinya Menyalip Pabrikan Jepang

12/02/2021

Pasar mobil

5 menit

Kiprah mobil China di Indonesia masih terus berlanjut. Sempat datang, hilang, dan kini mobil China ingin kembali eksis di Tanah Air lewat Wuling dan DFSK.

Tahun 2017 menjadi tanda akan 'kebangkitan' merek mobil China di Indonesia. Kala itu, dua pabrikan asal China menampakan keseriusannya untuk mengisi pasar otomotif Indonesia. Adalah Wuling dan DFSK yang memiliki secuil harapan untuk mendobrak dominasi pabrikan Jepang di Indonesia. 

Bicara soal mobil China di Indonesia, sebenarnya bukanlah hal asing. Mengutip data distribusi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, mobil China telah mengisi pasar otomotif Tanah Air sejak tahun 2006. Kala itu mobil merek China yang mulai menjajakan mobilnya adalah Chery. 

Gambar mobil Chery QQ 2010 berwarna silver dilihat dari sisi depan

Chery QQ

>>> Pilihan Mobil Merek China Model Terbaru di Bawah Rp 200 Juta

Penjualan Mobil China di Tengah Pabrikan Jepang

Chery hadir untuk menantang para rival yang sudah lebih dulu eksis seperti Toyota, Mitsubishi, Suzuki, Daihatsu, Honda, Nissan, KIA, Hyundai, BMW, VW, bahkan Timor pun ikut dalam persaingan. 

Pada tahun pertamanya itu, Chery mampu membukukan penjualan sebanyak 269 unit. Angka ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan pabrikan Jepang seperti Toyota hingga Honda. Toyota sepanjang tahun 2006 mampu mencatatkan penjualan sebanyak 123.698 unit. Sementara Honda yang mengisi tempat kelima besar penjualannya hanya 30.000 unit. 

Kemudian menginjak tahun kedua, Chery tampak mampu membuktikan produknya bisa diandalkan. Terbukti penjualannya meningkat menjadi 759 unit sepanjang 2007. Tahun ketiga Chery masih merasakan manisnya bulan madu di pasar otomotif Tanah Air. Penjualannya kembali meningkat menjadi 853 unit. 

Barulah pada tahun keempat, penjualan mobil China di Indonesia yang satu ini terlihat menurun. Jikalau tahun-tahun sebelumnya bisa menembus 853 unit, maka pada tahun 2009 penjualannya hanya 407 unit. Tren penurunan tersebut berlanjut sampai akhirnya tahun 2013 tak ada lagi mobil merek Chery yang terjual. 

DFSK Glory 580

Mobil China DFSK Glory 580

Chery bukan satu-satunya produsen mobil China yang menawarkan mobilnya di Indonesia. Ada juga Geely yang mulai meramaikan pasar otomotif Tanah Air pada 2011. Nyatanya kehadiran Geely masih belum juga mampu menyalip mobil merek Jepang. Geely pada tahun pertamanya hanya membukukan penjualan sebanyak 1.022 unit. Di tahun yang sama, Toyota sudah bisa menjual 310.674 unti dalam kurun waktu 12 bulan. 

Geely juga tampaknya tak kuat menghadapi panasnya persaingan penjualan mobil di Indonesia yang makin sengit. Tiga tahun mencicipi persaingan di Indonesia, Geely memutuskan untuk tak lagi menjual mobilnya. 

Menyerahnya Chery dan Geely nyatanya cukup memberi pengaruh akan citra mobil China di Indonesia. Masyarakat seolah kapok akan mobil asal Negeri Tirai Bambu itu. Meski dijual dengan banderol murah nyatanya harus kesulitan mencari suku cadang.

>>> Terdampak Corona, Penjualan Mobil di China Baru Menyentuh 2,1 Juta Unit

Mati Satu Tumbuh Seribu

Tapi hal itu tak menyurutkan semangat pabrikan China lain untuk mencoba peruntungannya. Terbukti pada tahun 2017 ada SGMW (SAIC-GM-Wuling) yang dikenal dengan Wuling meluncurkan mobil perdananya. Wuling pun berkomitmen agar bisa panjang umur di Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan pembangunan pabrik dan investasi senilai 700 juta dolar AS atau Rp 9,6 triliun. 

Chevrolet Captiva rakitan Wuling Motors untuk ekspor

Wuling juga melakukan ekspor dalam bentuk Chevrolet Captiva

Investasi itu digunakan membangun pabrik seluas 60 hektar di Greenland International Industrial Center (GIIC), Cikarang Pusat, Bekasi, Jawa Barat. Pembagiannya 30 hektar untuk pabrik, dan 30 hektar lainnya untuk Supplier Park, dengan kapasitas produksi maksimal 120.000 unit per tahun. Adanya pabrik diharapkan menjadi daya tarik agar masyarakat percaya bahwa Wuling tak seperti merek-merek sebelumnya. 

Selain Wuling, produsen China lain yang membangun pabriknya di Tanah Air adalah Sokonindo Automobile atau lebih dikenal dengan DFSK. Pabrik DFSK berada di Kawasan Industri Modern Cikande, Serang, dibangun dengan investasi 150 juta dolar Amerika Serikat (AS). Pabrik baru ini memiliki kapasitas produksi maksimal 50 ribu unit per tahun. Saat ini pabrik DFSK Indonesia memproduksi Super Cab, Glory 580, dan Glory 560.

Keduanya pun diketahui tak hanya memproduksi kendaraan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Wuling dan DFSK juga melakukan ekspor ke sejumlah negara.

>>> 20 Merek Terlaris Tahun 2020, Toyota Tutup Tahun Dengan Manis

Masih Butuh Ekstra Usaha 

Bicara penjualan, keduanya memang masih membutuhkan usaha lebih untuk bisa menyalip para pabrikan Jepang. Mengacu pada data distribusi ritel Gaikindo sepanjang 2017 Wuling hanya membukukan 3.268 unit atau 0,3% dari total penjualan seluruh merek. Sementara DFSK penjualannya hanya 51 unit. 

Beralih ke tahun 2018, mobil-mobil Wuling mampu memikat hati masyarakat Indonesia. Terlihat pada tahun keduanya itu pangsa pasarnya meningkat menjadi 1,3% atau sekitar 15.162 unit. DFSK pun demikian menjadi 0,1% dengan penjualan sebanyak 839 unit. 

Wuling Confero S 1.5 2020 berwarna merah

Harga miring menjadi salah satu andalan Wuling Confero di tengah ketatnya persaingan

Tahun ketiga dicatat Wuling dengan torehan positif. Pangsa pasarnya kembali meningkat menjadi 2% dengan penjualan sebanyak 21.112 unit. DFSK juga begitu dimana penjualannya mencapai 3.260 unit atau 0,3% dari total seluruh merek. 

Memasuki tahun 2020, Wuling dan DFSK tak kebal akan adanya pandemi. Penjualan Wuling merosot hanya mencapai 9.523 unit atau 1,6% dari keseluruhan penjualan. Sementara pangsa pasar DFSK justru mengalami peningkatan menjadi 0,4%. Namun demikian penjualannya turun menjadi 2.424 unit secara ritel.

Penulis
Lulusan Universitas Trisakti ini mengawali karir jurnalis otomotif di salah satu media ternama di Indonesia sejak 2016. Sebagai jurnalis di bidang otomotif, tentu dituntut untuk mengetahui ragam informasi yang berkaitan dengan mobil, motor, hingga lalu lintas kendaraan. Tidak cuma memiliki pengetahuan soal industri otomotif Tanah Air, bekerja di media mainstream artinya dituntut juga untuk menyajikan berita secara cepat dan akurat. Dengan kemampuan yang dimiliki, sejak saat itu pula mulai dipercaya untuk mengetes ragam mobil baru di Indonesia maupun luar negeri. Tak cuma itu, aneka pameran otomotif berskala nasional dan internasional di berbagai negara juga telah dihadirinya. Pada tahun 2020, memutuskan untuk bergabung dengan Cintamobil.com sebagai Editor. Roles Sebagai Editor di Cintamobil.com, Dina berperan menulis sekaligus mengedit tulisan agar lebih enak untuk dibaca dan juga mengontrol pemberitaan yang lebih layak. Di samping itu, tetap memantau pergerakan berita di industri otomotif nasional dalam dan juga luar negeri. Specialities Memantau pergerakan berita di industri otomotif sekaligus menulisnya dengan cepat Mengedit berita Experience - GIIAS 2016, 2017, 2018, 2019 - IIMS 2017, 2018, 2019 - IMOS 2016, 2018 - Geneva International Motor Show 2017 - Tokyo Auto Salon 2019
 
back to top