Kisah Mercedes-Benz 500 E, Mercy Dengan Sentuhan Porsche

31/05/2021

Pasar mobil

3 menit

Share this post:
Mercedes-Benz 500 E menjadi salah satu momen penting ketika Mercedes-Benz tidak memanfaatkan jasa AMG untuk mendongkrak performa mesin mobil kreasi mereka

Sekali waktu, ada satu momen ketika Mercedes-Benz tidak memanfaatkan jasa AMG untuk mendongkrak performa mesin mobil kreasi pabrikan asal Stuttgart tersebut. Padahal boleh disebut nyaris tak ada produk Mercedes-Benz dengan performa tinggi yang hadir tanpa sentuhan tangan dingin para engine builder.

gambar mercedes-benz

Sedan Mercedes-Benz 500 E dengan performa tinggi yang tidak melibatkan AMG

Builder tersebut ialah AMG, yang menelurkan Mercedes-AMG A35 atau Mercedes-AMG G63. Namun demikian, Mercedes-Benz pernah memproduksi mobil performa tinggi tanpa emblem AMG dan salah satunya adalah Mercedes-Benz 500 E. Uniknya, Mercedes-Benz merilis sedan mewah tersebut dengan bantuan  Porsche. Dan inilah kisahnya yang dirangkum oleh tim Cintamobil.com.

>>> Rahasia Dibalik Kenyamanan Mobil Mercedes-Benz

30 Tahun

Mercedes-Benz 500 E tampil perdana dan sukses memukau para pengunjung gelaran Paris Motor Show 1990. Animo positif mendorong Mercedes-Benz untuk mulai memasarkannya pada musim semi tahun 1991, jadi tepat 30 tahun lalu. Wajar kalau pada tahun 2021, Mercedes-Benz merayakan ulang tahun ke-30 untuk salah satu produk legendaris mereka.

gambar mercedes-benz

Melakukan debut pada event Paris Motor Show 1990 dan disambut antusias para khalayak

Sebagai kilas balik, pada tahun 1988 Daimler-Benz AG memberikan kontrak kerja sama berupa proyek khusus kepada Porsche AG dengan subyek “design and experimental series development of the base type W124”. Kontrak tersebut juga menugaskan Porsche untuk memodifikasi mesin V8 5,0 liter milik Mercedes-Benz 500 SL dan dipasang pada Mercedes-Benz W124 sehingga menjadi sebuah performance touring car yang layak untuk pemakaian harian (street legal). Secara total, sampai  April 1995, produksi Mercedes-Benz W124 (500 E) racikan Porsche mencapai jumlah 10.479 unit. 

Produksi Porsche

Bagi Porsche, proyek Mercedes-Benz 500 E menjadi berkah tersendiri karena pada masa 1980-an hingga 1990-an, pabrikan berlogo kuda hitam sedang jingkrak  itu sedang  dalam kondisi sakit akibat  kesulitan keuangan. Sementara bagi Mercedes-Benz, jalur produksi yang ada  tidak cukup untuk merakit  mobil berbadan lebar seperti Mercedes-Benz W124 500 E (karena lebih lebar 56 mm dibanding produksi standar).

gambar mercedes-benz

Menjadi simbiosis mutualisme antara Mercedes-Benz dan Porsche

Secara keseluruhan, satu unit Mercedes-Benz W124 tipe 500 E membutuhkan waktu produksi selama 18 hari di pabrik Mercedes-Benz dan pabrik Porsche. Proses produksinya memang ribet karena harus bolak-balik antara pabrik Mercedes-Benz dan pabrik Porsche. Pertama, pabrik Mercedes-Benz mengirimkan body parts ke pabrik Porsche.

Gambar Mercedes-Benz 500 E 1911

Siapa sangka Mercy ini dibuat di pabrik milik Porsche?

Kedua, pabrik Porsche kemudian merakit panel bodi. Ketiga, unit yang selesai dirakit oleh pabrik Porsche lalu dikirim ke pabrik Mercedes-Benz untuk proses pengecatan. Keempat,  produk yang sudah selesai menjalani pengecatan lalu dikirim lagi ke pabrik Porsche untuk instalasi mesin dan komponen lainnya. Kelima, mobil yang sudah jadi kemudian dikirim kembali ke pabrik Mercedes-Benz untuk menjalani tahapan final QC. Wuih bukan main repotnya!  

Proyek Istimewa

Banyak hal yang membuat proyek Mercedes-Benz 500 E menjadi sangat istimewa bagi Mercedes-Benz dan Porsche. Secara teknis, mobil ini tetap senyaman W124 versi standar namun mesin V8 5,0 liter 322 hp dan 470 Nm memungkinkan 500 E yang lalu berganti nama menjadi E 500 dengan transmisi otomatis 4-speed untuk berakselerasi 0-100 km/jam hanya dalam waktu 5,9 detik dan mencapai top speed hingga 250 km/jam (dibatasi secara elektronik).

gambar mesin

Mesin V8 5,0 liter menghasilkan akselerasi 0-100 km/jam dalam 5,9 detik dan top speed 250 km/jam

Berbekal performa tersebut, Mercedes-Benz W124 500 E langsung menjadi rival sejati untuk BMW M5 E34. Pada sisi lain, aspek unik mobil sport touring ini terletak pada desain sayap belakang dan versi empat penumpang karena ruang kabin belakang bagian tengah tersita untuk perangkat differential yang berukuran besar. Alhasil tidak ada tempat lagi untuk kursi belakang bagian tengah bagi penumpang ke-lima.

 >>> Cintamobil TV: Wajib Lihat Replika Mobil Klasik Mini!

Sudah makan asam garam jadi wartawan, mulai dari wartawan kampus sejak 1988, dan jadi wartawan bidang otomotif sejak 1995. Pernah menulis untuk beberapa media top mulai dari koran, majalah dan tabloid. Tahun 2021 ia menulis untuk Cintamobil.com.

Sejak usia 3 tahun sering diajak ayah untuk membantu mengurus mobil dinas semisal membawakan alat kerja, minyak, fluida dan suku cadang. Akhirnya otomotif menjadi bagian hidup. 
Selepas kuliah dan sebelum wisuda, bergabung menjadi reporter tabloid Otomotif yang berada dalam naungan Kelompok Kompas Gramedia dengan bidang utama penulisan roda empat. Kemudian pindah ke Liputan6 dan mengisi berita untuk desk internasional. Lalu tahun 1998 bergabung dengan majalah Mobil Motor, majalah otomotif tertua di Indonesia (terbit sejak tahun 1970). 
Kemudian tahun 2003, pindah ke majalah Motor Trend (edisi Indonesia). Tahun 2009 kembali ke majalah Mobil Motor dan tahun 2014 mudik ke majalan Motor Trend. Pada tahun 2020 mengisi Otoblitz.net dan mulai tahun 2021 menulis untuk Cintamobil.com. 

Awards

  • 2003: Juara 1, Lomba Menulis General Motors Indonesia (Review Produk) 
  • 2007:  Juara 1, Lomba Menulis General Motors Indonesia (Review Teknologi)
 
back to top