Menurut Toyota, Mesin Pembakaran Dalam Belum Mati

16/05/2021

Pasar mobil

3 menit

Share this post:
Toyota memilih untuk tetap mempertahankan mesin pembakaran dalam karena ternyata masih dibutuhkan sebagai penggerak pada mobil hybrid dan mobil hybrd plug in

Satu kata ini—konservatif—mungkin sangat cocok untuk menggambarkan jawaban serta definisi untuk pertanyaan “seperti apakah gaya bisnis Toyota?” Ya Toyota memang konservatif. Coba kilas balik beberapa tahun belakangan saat pabrikan otomotif beramai-ramai “going electric”. Toyota tidak ikut-ikutan latah main mobil listrik dan melupakan mesin uangnya selama ini. Ya Toyota membuat mobil listrik namun tetap mempertahankan mobil konvensional dan mobil hybrid karena mesin uangnya dari segmen tersebut.

Gambar Toyota Prius 1997

Pada sisi lain, Toyota yang pertama kali merilis mobil hybrid (Toyota Prius, 1997)  yang dipandang sebagai jembatan untuk transisi dari mobil konvensional menuju mobil listrik. Nyatanya, pada hari ini mobil full listrik (BEV) masih menemui kendala. Begitu  pula mobil konvensional belum sepenuhnya mati. Pada sisi lain, mobil hybrid juga masih terus diproduksi oleh sejumlah pabrikan otomotif. Tampaknya, Toyota sedang menentukan langkah yang cocok untuk mencapai “going carbon neutral” dan kemudian mencari “exit strategy”  sebelum beralih sepenuhnya ke mobil listrik (BEV).   

>>> Keuntungan dan Kerugian Menggunakan Mobil Listrik di Indonesia

Going Carbon Neutral

Untuk mencapai “going carbon neutral”, sejauh ini Toyota menempuh beberapa “rute”  seperti  hydrogen fuel cell vehicles (FCEV), hybrid, dan plug-in hybrid. Pada tahun  2030, Toyota berharap  BEV dan FCEV akan menyumbang 15% dari total penjualan Toyota di Amerika Serikat. Terkait  tahun 2030,  sekitar 70% penjualan gabungan  Toyota dan Lexus diharapkan akan berasal dari mobil elektrifikasi.

gambar toyota bev

Toyota Ultra Compact BEV, salah satu cara Toyota untuk mencapai going carbon neutral

Lalu bagaimana dengan sisa 85% dan 30%? Berasal dari kontribusi  penjualan mobil hybrid dan  plug-in hybrid yang berarti mesin pembakaran dalam (ICE, internal combustion engine) masih tetap diperlukan. Itu sebabnya, Toyota bersikap mendua dalam hal penghapusan mesin pembakaran dalam. Terlebih Toyota berambisi menjual 8 juta unit mobil elektrifikasi secara global dalam waktu 9 tahun ke depan. Dan 2 juta unit (dari 8 juta unit tadi) berasal dari penjualan BEV dan PHEV.  

Mobil Elektrifikasi

CEO Toyota,  Akio Toyoda, baru-baru ini dihujani kritik oleh sejumlah lembaga investasi raksasa kelas global karena bersikap anti-EV. Mereka menekan  Toyota agar segera ikut arus utama, main mobil listrik.  Namun sebelum pertemuan para pemegang saham berlangsung bulan Juni 2021 mendatang, pada bulan Maret 2021 Toyota sudah mengirim  direktur  “Energy and Environmental Research”, Rober Wimmer, untuk bertemu dengan  Senat Amerika Serikat terkait permintaan Presiden Joe Biden soal percepatan mobil listrik. Intinya, Rober Wimmer menjelaskan kalau Toyota butuh waktu lebih dari 14 tahun untuk mencapai status sebagai produsen 100% mobil listrik.

gambar toyota mirai

Toyota Mirai, salah satu mobil elektrifikasi dengan teknologi hydrogen fuel cell

Yang jelas, Toyota butuh waktu 20 tahun untuk menjual 4 juta unit mobil hybrid dan perlu waktu lebih lama  lagi untuk menghapus  mesin pembakaran dalam. Kalau mau jujur, sebenarnya Toyota melakukan langkah mengulur waktu supaya benar-benar siap ketika saatnya tiba untuk beralih menjadi produsen 100% mobil listrik. Faktanya? Toyota sudah punya prototipe mobil listrik murni dengan baterai solid state yang siap masuk pasar tahun 2025, belum lagi Toyota Mirai generasi kedua dengan teknologi hydrogen fuel cell. Jadi mari kita lihat langkah-langkah Toyota dalam beberapa waktu ke depan. So let’s see….  

>>> Toyota Mulai Produksi Mobil Listrik Secara Lokal Tahun Depan

Sudah makan asam garam jadi wartawan, mulai dari wartawan kampus sejak 1988, dan jadi wartawan bidang otomotif sejak 1995. Pernah menulis untuk beberapa media top mulai dari koran, majalah dan tabloid. Tahun 2021 ia menulis untuk Cintamobil.com.

Sejak usia 3 tahun sering diajak ayah untuk membantu mengurus mobil dinas semisal membawakan alat kerja, minyak, fluida dan suku cadang. Akhirnya otomotif menjadi bagian hidup. 
Selepas kuliah dan sebelum wisuda, bergabung menjadi reporter tabloid Otomotif yang berada dalam naungan Kelompok Kompas Gramedia dengan bidang utama penulisan roda empat. Kemudian pindah ke Liputan6 dan mengisi berita untuk desk internasional. Lalu tahun 1998 bergabung dengan majalah Mobil Motor, majalah otomotif tertua di Indonesia (terbit sejak tahun 1970). 
Kemudian tahun 2003, pindah ke majalah Motor Trend (edisi Indonesia). Tahun 2009 kembali ke majalah Mobil Motor dan tahun 2014 mudik ke majalan Motor Trend. Pada tahun 2020 mengisi Otoblitz.net dan mulai tahun 2021 menulis untuk Cintamobil.com. 

Awards

  • 2003: Juara 1, Lomba Menulis General Motors Indonesia (Review Produk) 
  • 2007:  Juara 1, Lomba Menulis General Motors Indonesia (Review Teknologi)
 
back to top