Kendaraan Bermotor Sumbang 60% Polusi Udara di Indonesia

02/06/2021

Pasar mobil

3 menit

Dari sekian banyak penyebab polusi udara di Indonesia, kendaraan bermotor menyumbang sebesar 60 persen atau paling tinggi dibanding penyebab yang lain.

Program elektrifikasi otomotif telah digagas Presiden Joko Widodo lewat Perpres Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan.

Program tersebut mendapat banyak dukungan. Salah satunya dari Ketua MPR yang sekaligus Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI), Bambang Soesatyo. Beberapa langkah dilakukan seperti mengembangkan Bike Smart Elektrik atau BS Elektrik yang 70 persen komponennya diproduksi lokal. Sepeda motor listrik itu akan terus ditingkatkan mengingat kebutuhan kendaraan roda dua di Indonesia semakin besar.

"Potensi pengembangan kendaraan listrik di Indonesia sangat menjanjikan. Dalam road map pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai yang disusun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, potensi sepeda motor listrik pada tahun 2030 diproyeksikan mencapai 13 juta unit, sedangkan mobil listrik mencapai 2,2 juta unit," kata Bamsoet dalam keterangan resminya di laman MPR RI, Kamis (27/5/21) lalu.

>>> Pabrik Baterai Mobil Listrik Pertama di Asia Segera Dibangun di Karawang

Foto Ketua MPR RI bersama dengan Sepeda motor listrik BS Elektrik

Program elektrifikasi otomotif mendapat dukungan dari banyak pihak

Kurangi polusi udara

Satu alasan BS Elektrik dikembangkan adalah keinginan mengurangi polusi udara. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) yang ditunjukkan Bamsoet, jumlah sepeda motor di Indonesia mencapai sekitar 147,75 juta unit per Januari 2021. Sedangkan kendaraan roda empat sebanyak 24,6 juta unit.

Besarnya populasi kendaraan bermotor tersebut berimbas pada banyak hal, dari meningkatnya polusi udara, tingginya serapan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM), hingga meningkatnya kasus kematian dini.

"Sekitar 60 persen kontributor polusi udara di Indonesia disebabkan kendaraan bermotor. Asap kendaraan BBM mengandung gas beracun karbon monoksida, timbal, nitrogen dioksida, dan karbon dioksida. Tingkat kematian akibat polusi udara di Indonesia juga cukup tinggi. Menurut Greenpeace, angka kematian dini akibat polusi udara di Indonesia sejak 1 Januari 2020 diperkirakan mencapai lebih dari 9.000 jiwa," jelas Bamsoet.

"Penggunaan energi listrik sebagai pengganti BBM, akan mengurangi konsumsi BBM dan beban subsidi yang harus ditanggung negara, sehingga pada akhirnya meningkatkan ketahanan energi nasional. Dalam rentang waktu 2014-2019, jumlah subsidi BBM mencapai Rp 700 triliun. Di APBN 2021, subsidi untuk BBM jenis tertentu mencapai Rp 16,6 triliun," tambahnya.

>>> Sederet Langkah Mengatasi Polusi Udara di Indonesia

Foto kemacetan di jalan raya

Kendaraan bermotor masih jadi penyumbang terbesar polusi udara di tanah air

Targetkan 31.859 unit SPKLU

Bamsoet berharap masyarakat turut berpartisipasi mengurangi polusi udara di Tanah Air. Salah satunya bermigrasi ke kendaraan listrik, jika nanti sudah diproduksi dan dijual secara massal. Selain itu diharapkan para produsen otomotif menyediakan porsi untuk kendaraan listrik, paling tidak 20-50 persen dari jumlah kendaraan yang diproduksi.

"Walaupun berbagai perangkat telah disiapkan, perlu dukungan semua pihak untuk mengubah kebiasaan masyarakat sehingga segera bermigrasi ke kendaraan listrik. Mengingat penggunaan kendaraan listrik saat ini telah menjadi tren industri otomotif global. Pabrikan otomotif dunia juga mulai mengalihkan lini produksi kendaraan konvensionalnya, antara 20-50 persen dari total produksinya, menjadi kendaraan listrik," tutup Bamsoet.

>>> Keuntungan dan Kerugian Menggunakan Mobil Listrik di Indonesia

Penulis
Satu-satunya anggota redaksi yang berbasis di Jawa Tengah. Bergabung di Cintamobil.com sejak 2017 sebagai Content Writer. Saat ini, kerap menulis berbagai informasi seputar lalu lintas dan perkembangan transportasi di Indonesia.
 
back to top