Kalau Mau Sukses di Indonesia, Suzuki S-Presso Harus Begini

21/10/2021

Pasar mobil

3 menit

Share this post:
Suzuki S-Presso digadang-gadang bakal mengisi pasar otomotif Indonesia. S-Presso tentunya butuh sejumlah hal supaya bisa sukses bersaing dengan rivalnya.

Mobil mungil Suzuki S-Presso santer dikabarkan bakal segera mengisi pasar otomotif Indonesia. Sayang kepastian kabar itu hingga saat ini masih abu-abu. Pihak Suzuki juga masih menutup rapat informasi terkait mobil kecil dengan banderol harga terjangkau tersebut. 

Di India, kehadiran Suzuki S-Presso cukup fenomenal. Harga murahnya menjadi daya tarik dan sempat membuat penjualannya membludak meski belakangan mulai absen mengisi daftar mobil terlaris di Negeri Bollywood itu. Kalaupun nanti masuk Indonesia kondisinya belum tentu sama. Maka dari itu Suzuki S-Presso tentu tak bisa datang dengan tangan hampa. Jika S-Presso dijual dengan harga di kisaran Rp 100 jutaan serta mengusung mesin 1.0L maka calon lawan terkuatnya adalah mobil di segmen LCGC. 

Melawan mobil di segmen LCGC bisa dibilang tak mudah. Bahkan sang saudara Suzuki Karimun Wagon R juga harus tertatih-tatih berhadapan dengan empat mobil LCGC kembar garapan Astra, Toyota, dan Daihatsu sekaligus Honda Brio Satya. Lalu senjata apa yang dibutuhkan S-Presso agar bisa bersaing menghadapi para rivalnya? 

>>> Bukan Avanza, MPV Baru Toyota Ini Kembaran Suzuki Ertiga

1. Desain Disesuaikan dengan Selera Orang Indonesia

Suzuki S-Presso

Desainnya bisa dibilang cukup kental dengan nuansa mobil India

Kalau boleh dibilang desain Suzuki S-Presso sangat kental dengan nuansa mobil-mobil India seperti halnya Ignis. Mengutip data distribusi wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, mobil Suzuki bernuansa India seperti Ignis kurang bisa mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Penjualannya tak banyak, bahkan kalah laris dengan mobil yang desainnya lekat dengan masyarakat Indonesia seperti LCGC. 

Belajar dari Ignis, bila nantinya masuk ke pasar otomotif Tanah Air, ada baiknya sisi desain eksterior disesuaikan dengan selera orang Indonesia agar bisa lebih memikat seperti halnya Ertiga atau XL-7. 

2. BBM Irit

Faktor tak kalah penting yang bisa menjadi senjata bagi S-Presso di Indonesia adalah keiritannya. Menggendong mesin berkapasitas 1.0 S-Presso diharapkan bisa menyajikan mobil irit dengan konsumsi bahan bakar di atas 20 km/liter. 

Gambar Mesin Suzuki S-Presso

Dalam pengujian yang dilakukan Suzuki, konsumsi BBM S-Presso mencapai 21,7 km/liter

Kenapa harus di atas 20 km/liter? Ya, karena di atas kertas mobil-mobil LCGC yang menjadi bakal calon rival S-Presso memiliki konsumsi BBM di kisaran 20 km/liter sesuai dengan ketentuan teknis Peraturan Menteri Perindustrian No. 33/M-IND/PER/7/2013 tentang Pengembangan Produksi Kendaraan Bermotor Roda Empat yang Hemat Energi dan Harga Terjangkau.

Apalagi sekarang konsumsi BBM juga berpengaruh terhadap pengenaan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) suatu mobil. Makin sedikit konsumsi bahan bakar dan emisinya maka PPnBM yang dikenakan makin rendah. Pun demikian dengan sebaliknya. S-Presso sendiri sudah memiliki modal itu. Dari hasil pengujian yang dilakukan oleh Maruti Suzuki India, konsumsi S-Presso terbaik bisa mencapai 21,7 km/liter. 

>>> Komparasi Suzuki S-Presso vs Nissan March dan Mitsubishi Mirage Bekas

3. Fitur Keamanan dan Keselamatan

Fitur keselamatan memiliki peran yang cukup penting di zaman sekarang. Terlebih mobil China juga mulai agresif menawarkan fitur canggih yang masih absen hadir di mobil Jepang. Gara-gara itu, tak sedikit pula konsumen yang mulai mempertimbangkan fitur sebelum membeli mobil. 

Suzuki S-Presso

Fitur dan kenyamanan tak kalah penting

Dengan harga kisaran Rp 100 jutaan di India, fitur Suzuki S-Presso tentu tidak bisa dibilang istimewa. Mobil ini mengusung ABS with EBD, Pedestrian Protection, Speed Sensitive Auto Door Lock Rear Parking Assist Sensor, dan Dual Airbags. 

4. Harga yang Tepat

Harga merupakan faktor yang tak kalah penting bagi suatu mobil dijual di Indonesia. Penempatan harga yang salah bisa-bisa membuat mobil kurang dilirik. Harga mobil yang murah pun tak bisa menjamin akan laris dijual di Indonesia apalagi kalau kemahalan.

Foto Suzuki S-Presso tampak samping dan interior

Penempatan harga yang tepat tak kalah penting

Sekadar informasi, S-Presso varian terendah di India punya banderol 378.000 rupee atau kalau dirupiahkan dengan kurs saat ini setara Rp 73,2 jutaan. Sedangkan untuk varian yang termahal punya banderolan 536.000 rupee atau setara Rp 103 jutaan. 

Bila masuk ke Indonesia dan dibanderol Rp 100 jutaan, bisa jadi Suzuki S-Presso akan memikat apalagi fitur yang sudah dihadirkan di India tidak disunat. 

>>> Intip Harga Mobil Suzuki Terbaru dan Terlengkap di Sini

Menjadi jurnalis otomotif di salah satu media ternama di Indonesia sejak 2016 dan telah memiliki ragam pengalaman menguji mobil hingga mengunjungi pameran otomotif tingkat dunia. Bergabung sebagai Editor di Cintamobil sejak tahun 2020.

Lulusan Universitas Trisakti ini mengawali karir sebagai jurnalis di kanal ekonomi di salah satu media ternama di Indonesia sejak 2015. Kemudian pada tahun 2016, dipercaya untuk mengisi kanal otomotif. Sebagai jurnalis di bidang otomotif, tentu dituntut untuk mengetahui ragam informasi yang berkaitan dengan mobil, motor, hingga lalu lintas kendaraan. Pun demikian dengan aturan lalu lintas yang berlaku saat ini. 

Tidak cuma memiliki pengetahuan soal industri otomotif Tanah Air, bekerja di media mainstream artinya dituntut juga untuk menyajikan berita secara cepat dan akurat. 

Dengan kemampuan yang dimiliki, sejak saat itu pula mulai dipercaya untuk mengetes ragam mobil baru di Indonesia maupun luar negeri. Adapun ragam mobil yang pernah dicoba antara lain di kelas LCGC, Low MPV, SUV, mobil listrik murni hingga Supercar sekelas Ferrari.

Tak cuma itu, aneka pameran otomotif berskala nasional dan internasional di berbagai negara juga telah dihadirinya. Pada tahun 2020, memutuskan untuk bergabung dengan Cintamobil.com sebagai Editor.

Experience

  • Tokyo Auto Salon 2019
  • Geneva International Motor Show 2017
  • GIIAS 2016, 2017, 2018, 2019
  • IIMS 2017, 2018, 2019
  • IMOS 2016, 2018
 
back to top