Insentif Jadi Solusi Jitu Mobil Listrik Bisa Sukses di ASEAN

04/02/2021

Pasar mobil

5 menit

Insentif Jadi Solusi Jitu Mobil Listrik Bisa Sukses di ASEAN
Mobil listrik adalah masa depan, mungkin kalimat itu memang ada benarnya, tetapi bagaimana cara agar mobil listrik bisa sukses di ASEAN? Ini menurut Nissan

'Mobil listrik adalah sebuah masa depan, kedepan semua mobil dengan motor bakar akan ditinggalkan.' Mungkin penggalan kalimat itu memang ada benarnya, tetapi nyatanya saat ini penetrasi mobil listrik di beberapa negara masih minim. Di kawasan ASEAN pun begitu.

Butuh Solusi Insentif

Tak bisa dipungkiri, salah satu masalah lambannya perkembangan kendaraan listrik di kawasan ASEAN tak terkecuali dengan Indonesia adalah harga. Hingga saat ini mobil bertenaga listrik punya banderolan harga yang cukup tinggi dibandingkan mobil konvensional. Untuk mempercepat pengadaan kendaraan listrik salah satunya adalah pemberian insentif.

"Karena sebagai produsen kami juga ingin dapat insentif, agar pasar lebih menarik dan kami dapat menyesuaikan produk yang pas untuk konsumen. Insentif perpajakan jadi salah satu pertimbangan untuk mobil listrik," tukas Isao Sekiguchi, selaku Regional Vice President, Nissan ASEAN dalam Webinar bertajuk 'Electrifying 250 Millions Cars, An Impossible Dream?' yang diselenggarakan hari ini, Kamis (4/2/2021).

Gambar Nissan Electrifying ASEAN

Nissan punya plan untuk menginisasi kendaraan elektrik di kawasan ASEAN

Masih menurut pria yang pernah menjabat sebagai petinggi Nissan di Indonesia ini, tak hanya soal insentif saja tetapi seberapa serius suatu negara untuk masuk 'ranah' mobil elektrifikasi. Salah satunya dengan memperkuat infrastruktur. 

"Contoh negara Jepang, SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) di Jepang sudah melebihi jumlah SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum), tapi hal ini tak terjadi dalam semalam. Ini hasil kolaborasi kuat antara produsen dengan pemerintah," lanjut pria berkebangsaan Jepang ini.

Gambar Nissan Note e-POWER Hongkong dan Singapura

Note e-POWER terbaru siap mengaspal di Hong Kong dan Singapura

Hal ini juga diamini oleh Edmund Araga, selaku President Asian Federation of Electric Vehicle Association. Menurutnya, pemerintah memang harus turun tangan langsung dalam percepatan kendaraan listrik ini.

 "ASEAN ini emerging market (pasar berkembang), ada faktor kebijakan pemerintah, plus jumlah populasi professional untuk usia 25 hingga 35 tahun itu tinggi, dan (usia tersebut) punya kapasitas untuk menginisasi perubahan. Internet of thinks juga berpengaruh. Sehingga pemerintah bisa mencari cara untuk mendukung kendaraan istrik," tambahnya.

Harga Jual Juga Berpengaruh

Seperti disebutkan sebelumnya, harga jual mobil listrik masih tergolong tinggi sehingga hanya bisa dijangkau kalangan tertentu. Ini menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat enggan beralih ke mobil listrik. Tanpa adanya kebijakan pemerintah untuk meringankan harga kendaraan ramah lingkungan, mobil ini tak akan bisa bersaing. Meski demikian, pemerintah Indonesia kini sedang menggodok regulasi LCEV (Low Carbon Emission Vehicle) guna meringankan pajak, sehingga harga jual mobil elektrifikasi bisa bersaing.

Gambar Nissan ASEAN

Beberapa masalah ini bisa terpecah jika ada dukungan kuat pemerintah

"Jika selisih (harga)-nya antara 30-40% ini akan berpengaruh, saat (konsumen) memutuskan untuk membeli tentu harga menjadi pertimbangan. Apabila hal ini bisa diinisasi (oleh pemerintah) maka minat masyarakat terhadap kendaraan listrik akan meningkat," tambah Edmund.

Jadi, di negara ASEAN manapun, kehadiran mobil listrik membutuhkan dukungan kuat dari pemerintah. Makanya Nissan kembangkan teknologi untuk menjembatani itu semua.

Teknologi e-POWER Sebagai Jembatan Elektrifikasi

Momok utama dari sebuah mobil listrik adalah jarak tempuhnya. Meski rata-rata sudah mencapai di atas 200 kilometer, namun SPKLU masih jarang ditemui, tak terkecuali di Indonesia. Teknologi e-POWER dengan pintar menjembatani kebutuhan ini. Jadi dengan teknologi e-POWER konsumen dapat merasakan sensasi sebuah mobil bertenaga listrik namun tidak perlu khawatir akan kehabisan baterai saat digunakan terus menerus. Jelas ini sebuah teknologi cerdas dari Nissan.

Foto emblem e-POWER di Nissan Kicks e-POWER 2020

Teknologi e-POWER racikan Nissan bisa jadi jembatan kendaraan elektrifikasi

Sistem e-POWER di Nissan Kicks contohnya, sistem ini memungkinkan pengemudi dapat mengisi bahan bakar dengan RON (Research Octane Number) minimal 90 untuk terus dapat berkendara. Mesin 1.200 cc 3-silinder berkode HR12DE yang tersemat di bawah kap mesin Nissan Kicks e-POWER ini hanya berfungsi sebagai genset listrik saja. Artinya mobil ini digerakkan hanya dengan motor listriknya saja yang mempunyai tenaga 129 PS atau setara dengan 126 HP dan torsi 290 NM yang semua diperoleh sejak putaran mesin 0 rpm khas mobil listrik.

>>> Begini rasa nyetir Nissan Kicks e-POWER

Penulis
Mengawali karir sebagai jurnalis otomotif pada 2014, setahun kemudian Arfian menjadi test driver di sebuah tabloid otomotif nasional. Bergabung di Cintamobil.com sejak 2018, Kini ia menjadi Managing Editor Cintamobil.com
 
back to top