Ini Sebabnya Pabrikan Otomotif Ogah Kembangkan Mesin Diesel Hybrid

06/08/2021

Pasar mobil

4 menit

Share this post:
Ini Sebabnya Pabrikan Otomotif Ogah Kembangkan Mesin Diesel Hybrid
Beberapa waktu lalu, beredar kabar bahwa Toyota sedang mengembangkan sistem hybrid untuk diesel mereka. Mengapa tak banyak pabrikan lain yang mengikuti?

Secara teori, mesin diesel yang terkenal irit tentu menarik untuk dipasangkan dengan sistem hybrid demi mengejar efinsiensi maksimal. Kenyataanya, tak banyak pabrikan otomotif yang tertarik untuk mengembangkannya.

Selain Toyota, terhitung setidaknya kurang dari 5 mobil yang dibekali mesin diesel hybrid. Kami tidak menghitung Suzuki Ertiga diesel karena mobil tersebut menggunakan sistem mild hybrid.

Lantas, apa alasan para pabrikan otomotif dunia ini enggan mengembangkan mesin yang secara teori bisa menjadi salah satu yang paling efisien? Berikut Cintamobil.com jabarkan alasan-alasannya.

>>> Menolak Punah! Toyota Kembangkan Sistem Hybrid untuk Mesin Diesel

1. Biaya Yang Mahal

Gambar Mesin Bensin

Biaya pengembangan dan produksi mesin bensin lebih murah

Sebagai sebuah perusahaan, sudah sewajarnya jika para pabrikan otomotif mengejar keuntungan. Salah satu caranya adalah dengan menekan biaya produksi mobil-mobil mereka.

Ini menjadi salah satu alasan mengapa mesin diesel pengembangannya tidak sekencang varian mesin bensin. Secara umum, pengembangan mesin diesel biayanya 15% lebih mahal dibanding mesin bensin. Belum lagi ditambah pengembangan motor listrik serta baterai yang harus disematkan ke dalam mobil tersebut.

Tak hanya itu, bahan bakar diesel berkualitas tinggi yang dibutuhkan mesin diesel hybrid lebih mahal dibanding bensin yang setara. Pertamax Turbo yang punya oktan paling tinggi di Indonesia dibanderol Rp 9.850, sedangkan Pertamina Dex dibanderol Rp 10.200.

2. Kurva Torsi Yang Tidak Komplementer

Kebanyakan mobil hybrid, menggunakan mesin bensin yang disetel khusus untuk menjalankan apa yang disebut Siklus Atkinson. Penyetelan yang sangat efisien ini memberi mereka output daya maksimum di bagian atas putaran mesin, tetapi hampir tidak ada torsi pada kecepatan yang lebih rendah.

>>> Ferrari Hybrid Termurah Beratap Terbuka Akan Segera Diluncurkan

Gambar Corolla Altis Hybrid

Tenaga mesin bakar Corolla Altis Hybrid memiliki tenaga lebih kecil dari saudaranya

Contohnya, Toyota Corolla Altis bermesin konvensional dan hybrid. Meski sama-sama punya kubikasi 1.800 cc, mesin bakar Altis Hybrid hanya menghasilkan tenaga 95 HP dan torsi 142 Nm, sedangkan saudaranya menghasilkan tenaga 140 HP dan torsi 171,6 Nm.

Kekurangan tersebut dilengkapi dengan sempurna oleh motor listrik sistem hybrid, yang mengembangkan torsi puncak pada 0 rpm, mengimbangi mesin bensin tersebut hingga berjalan dengan kecepatan tinggi.

Mesin diesel, di sisi lain, menghasilkan torsi besar dari putaran mesin yang rendah, seperti halnya motor listrik. Itu berarti mesin diesel hybrid akan memiliki muatan torsi yang melimpah, sehingga membutuhkan rasio transmisi yang tepat untuk jadi efisien.

3. Peningkatan Minim

Gambar Mesin E300 BlueTec

Meski terdengar menjanjikan, mesin diesel hybrid tidak menawarkan peningkatan signifikan

Alasan terakhir mengapa mesin diesel hybrid tidak menarik untuk dikembangkan adalah, mesin tersebut sudah sangat efisien bahan bakar! Mesin bensin mengubah 25 hingga 30 persen kandungan energi bahan bakar menjadi gerakan maju di roda, sisanya terbuang sebagai panas dan kebisingan.

Sebaliknya, mesin diesel mengubah 30 hingga 35 persen energi bahan bakar menjadi gerakan maju, karenanya angka efisiensi bahan bakar mesin jenis ini lebih tinggi. Namun, kelebihan dari mesin diesel tersebut menyisakan ruang yang sangat kecil untuk ditingkatkan dengan sistem hybrid.

Pada akhirnya, kata para insinyur diesel, diesel hybrid akan menambahkan sistem elektrifikasi yang sangat mahal ke mesin yang sudah mahal. Namun, menghasilkan peningkatan keseluruhan yang kurang mengesankan bagi para pabrikan otomotif untuk mengembangkannya.

>>> Mitsubishi Bocorkan Teaser Outlander PHEV Terbaru, Jadi SUV 7-Seater

Mengawali karir sebagai jurnalis otomotif di tahun 2017, Taufan mengisi berbagai posisi mulai dari reporter, test driver, dan host untuk salah satu portal berita otomotif nasional. Kini, Ia bergabung sebagai content writer di Cintamobil.com. Taufan merupakan lulusan Hubungan Internasional Fakultas
 
back to top