Fuso Masih Kokoh Sebagai Market Leader Kendaraan Niaga Komersil

16/02/2018

Pasar mobil

3 menit

Fuso Masih Kokoh Sebagai Market Leader Kendaraan Niaga Komersil
PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), agen pemegang merek (APM) Mitsubishi di Indonesia untuk kendaraan niaga komersil mencatatkan hasil gemilang di tahun 2017. Sepanjang dua belas bulan di tahun 2017 tersebut, Mitsubishi Fuso yang menjadi andalan KTB sukses mempertahankan posisinya sebagai market leader.

Dari total penjualan mobil niaga komersil di tanah air Fuso berhasil menguasai pasar dengan market share sebesar 44,8 persen. Bila dihitung secara pangsa pasar, angka tersebut memang menurun dari tahun sebelumnya sebab di tahun 2016, KTB memperoleh pangsa pasar sebesar 45,7 persen.

gambar menunjukkan Dealer Mitsubishi Fuso - Parung Bogor

Dealer diresmikan Juni 2017 

Namun secara volume penjualan, menurut Duljatmono selaku Direktur Sales & Marketing PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) dibandingkan dengan tahun 2016 ada kenaikan sebesar 28 persen. Tahun 2017 KTB sukses menjual sebanyak 42.319 unit Fuso. Sementara di tahun 2016 hanya ada 33.016 unit yang terjual.

“Untuk segmen Light Duty Truck (LDT) share meningkat dari tahun lalu 55 persen, pada 2017 menjadi 58 persen, angkanya 38.116 unit. Sementara sisanya disumbang Medium Duty Truck (MDT) 4.097 unit dan tracktor head 106 unit. Kelas MDT share kami 18 persen, itu kami masih perlu effort lagi yang lebih besar untuk meningkatkan share kami,” tutur Duljatmono kepada media, Senin (12/2/2018).

gambar menunjukkan Fuso terpanjang dipajang di pameran GIIAS 2017

SegmenLDT share meningkat dari tahun lalu 55 persen

Peningkatan volume penjualan yang diperoleh KTB tak lepas dari beberapa faktor yang mempengaruhi. Duljatmono menuturkan setidaknya ada tiga faktor penting yang turut membantu peningkatan penjualan Fuso di tahun 2017, yaitu:

  • Proyek Infrastruktur
  • Komoditas
  • Logistik

Pertama faktor Infrastruktur. Tak dipungkiri gencarnya pemerintah dalam pembangunan berbagai sarana dan prasarana di seluruh Indonesia turut menyumbang besar pertumbuhan bisnis otomotif kendaraan niaga komersial khususnya truk pengangkut material. Tidak hanya KTB saja dengan Fuso-nya, merek-merek lain pun turut mengalami peningkatan seperti Hino dan Isuzu.

>>> Baca juga: Mitsubishi Memilih untuk Mengembangkan Sedan dan Truk Pickup

Kedua faktor Komoditas. Tahun 2017 bisa dibilang sebagai tahun yang manis bagi bisnis komoditas seperti pertambangan dan agribisnis. Di sektor pertambangan ada komoditas batubara yang mengalami pertumbuhan positif. Begitu pula di sektor agribisnis, ada komoditas kelapa sawit yang juga turut membaik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tak urung pertumbuhan dua komoditas di atas turut mendongkrak penjualan kendaraan pengangkut yang di dalamnya ada Mitsubishi Fuso.

gambar yang menunjukkan mobil Fuso untuk pertambangan berwarna kunning dan dua mobil truk lain berwarna orange

Deretan truk Fuso

“Pertama infrastruktur yang terus tumbuh, kedua komoditas seperti sawit yang harga dan demand masih bagus. Kemudian ketiga itu yang sisa dari tahun 2016, yakni batubara yang pada kuartal IV, permintaannya naik terus dan harganya juga bagus,” papar Duljatmono.

Ketiga faktor Logistik. Dari sisi kontribusi, kegiatan logistik masih sangat besar antara 50 hingga 55 persen. Akan tetapi dari sisi pertumbuhan tidak begitu signifikan dan bisa dibilang flat.

>>> Mungkin Anda tertarik, Tesla akan Mengeluarkan Truk Pick Up Elektrik dalam Kurun Waktu 2 Tahun

“Sementara Logistik itu dari sisi kontribusi masih terbesar tetapi dari pertumbuhan dia flat. Sumbangsihnya sekitar 50 sampai 55 persen dari logistik atau retail consumer. Sedangkan untuk tiga sektor tadi itu pertumbuhannya luar biasa,” jelas Duljatmono.

>>> Baca juga berita pasar mobil lainnya disini

Sebagaimana merek lain seperti Hino dan Isuzu yang berharap peningkatan, Duljatmono dan Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) juga berharap tren positif ini bisa berlanjut di tahun 2018 dan tahun-tahun yang akan datang. Terlebih tahun 2018 ini menjadi tahun akselarasi pemerintahan Presiden Jokowi serta tahun 2019 nantinya yang menjadi puncak political turbulence jelang pemilu 2019.

Diharapkan kondisi negeri tetap kondusif sehingga tidak mengganggu kegiatan bisnis masyarakat termasuk industri otomotif.

>>> Baca juga berita otomotif lainnya disini

 
back to top