Bukan Asap, Clean Air Strategy Analisis Ini Emisi Berbahaya Selanjutnya

24/05/2018

Pasar mobil
Share this post:
Bukan Asap, Clean Air Strategy Analisis Ini Emisi Berbahaya Selanjutnya
Untuk mengurangi polusi, Indonesia sepertinya bisa mengacu pada pemerintah Inggris. Clean Air Strategy, atau Strategi Udara Bersih yang dirancang oleh pemerintah Inggris untuk mencegah krisis kesehatan karena polusi oleh keausan ban dan asap kendaraan.

Dengan rencana untuk mengatasi polusi udara dari emisi gas buang, pemerintah Inggris mencanangkan Clean Air Strategy yang berfokus pada partikel kecil berukuran 2.5 mikrometer yang dipancarkan ban dan rem saat digunakan. Karena ukuran yang kecil, emisi PM2.5 ini mampu melewati hidung manusia dan tenggorokan, hingga masuk ke dalam paru-paru dan dikaitkan dengan sejumlah kondisi kesehatan, termasuk penyakit pernafasan.

Departemen Kesehatan Masyarakat dan Departemen Lingkungan, Makanan, dan Pedesaan (Defra) Inggris menjelaskan bagaimana pemerintah Inggris untuk meneliti dan mengembangkan standar baru bagi ban dan rem untuk mengatasi masalah beracun emisi gas buang dari plastik mikro hasil buangan kendaraan yang dapat mencemari udara dan air.

Gambar yang menunjukan beberapa mobil yang sedang berjajar di tepi jalan

Emisi berbahaya kendaraan diprediksi meningkat beberapa tahun ke depan

Raksasa komponen otomotif, Bosch, baru-baru ini meluncurkan cakram iDisc baru dengan lapisan tungsten-karbida yang memancarkan 90% lebih sedikit debu rem daripada piringan besi konvensional. Masalahnya, iDisc saat ini tiga kali lebih mahal daripada rem cakram standar, meskipun biaya produksi diprediksi akan turun ketika volume produksi meningkat.

>>> EPA tukar peraturan emisi jaman Obama tentang Standar Emisi Buang

Laporan dari Defra berdasarkan penelitian tahun 2012, sekitar 18% emisi PM2.5 berasal dari knalpot kendaraan, sementara 11 persen berasal dari ban dan pemakaian rem. Penggunaan kendaraan yang semakin banyak di jalanan perkotaan turut menjadi pemicu banyaknya emisi yang menambah polusi udara di Inggris.

Para ahli yang meneliti perkara ini mengungkapkan bahwa pada tahun 2030, ketika sektor transportasi beralih menjadi kendaraan listrik, 90% dari emisi PM2.5 yang disebabkan oleh partikel-partikel mikroskopis lebih banyak ditimbulkan oleh ban dan rem yang terkikis ketika mulai menua.

>>> Berita pasar mobil dunia bisa didapatkan disini

Associate Director di Konsultan Lingkungan dan Kebijakan Element Energy, Celine Cluzel mengatakan, “Begitu 90% dari emisi berbahaya yang tersisa dari ban dan pemakaian rem, akan tampak logis bahwa ban dan proses keausan rem harus diselidiki.”

Gambar yang menunjukan ban yang sudah aus dan mengalami penipisan tapak

Ban aus menghasilkan emisi berbahaya untuk kesehatan

Penyelidikan tentang emisi buangan kendaraan mungkin juga bisa diberlakukan di Indonesia, dimana jalanan perkotaan masih dipenuhi oleh lalu lalang kendaraan tanpa henti. Bukan tidak mungkin, emisi berbahaya dari kendaraan mempengaruhi kesehatan penduduk yang tinggal di daerah perkotaan.

>>> Berita otomotif terkini bisa Anda dapatkan disini

Share this post:
 
back to top