Ban Conti GreenConcept, Ban Hijau dan Ramah Lingkungan

18/09/2021

Pasar mobil

3 menit

Konglomerat otomotif asal Jerman, Continental, memperkenalkan ban Conti GreenConcept dengan karakter hijau dan ramah lingkungan pada semua aspek produksi

Saat ini, “hijau dan ramah lingkungan” sudah menjadi tuntutan global untuk berbisnis. Artinya, kalau mau urusan bisnisnya berkelanjutan, jadilah perusahaan yang memiliki karakter hijau dan ramah lingkungan. Karena  berlaku secara global, makanya industri otomotif dan termasuk industri komponen sebagai pendukung bisnis otomotif juga wajib memenuhi persyaratan hijau dan ramah lingkungan.  

>>> Ada Honda Jazz Terobos Aspal Baru Dilapis Ulang, Jangan Ditiru Ya!

Hijau dan Ramah Lingkungan

Terkait hal tersebut, konglomerat otomotif Continental yang bermarkas di Hannover, Jerman, dan salah satu unit bisnya adalah divisi ban,  sudah langsung pasang target sebagai “the most progressive tire company” mulai tahun  2030 dalam hal tanggung jawab  ekologi dan sosial. Untuk mencapai ambisi itu sambil memanfaatkan momen Munich Motor Show, Continental memperkenalkan  ban konsep dengan nama Conti GreenConcept. 

Semua Lini Produksi 

Sejatinya, Continental tidak ingin ban Conti GreenConcept hanya menjadi pajangan  di pameran. Sebab, konsep dasar ban Conti GreenConcept  adalah penghematan pada semua lini produksi, jadi bukan cuma saat proses pembuatan ban baru semata.

Ban Continental

Ban ini akan diproduksi

Artinya, mulai dari pengambilan bahan karet mentah, pembuatan benang nilon, kawat baja, silikat karbon, hingga vulkanisir untuk memperpanjang usia pakai ban, semua proses tersebut  wajib  ramah lingkungan.  

Bahan Alami 

Menurut Continental, lebih dari setengah bahan baku yang digunakan untuk pembuatan ban konsep tersebut akan berasal dari bahan daur ulang atau bahan terbarukan.  Nantinya, sekitar  35% bahan dasar untuk ban konsep ramah lingkungan berasal dari bahan baku terbarukan. Di antara  bahan baku bio-material yang digunakan  untuk pembuatan ban adalah  karet alam dari tanaman dandelion, silikat dari abu sekam padi,  minyak sayur dan  resin—semua berperan penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak mentah. 

gambar ban continental

Penggunaan bahan alami dan daur ulang menjadi prioritas utama 

Sebanyak 17% bahan daur ulang seperti kawat baja, karbon hitam dan polyester (daur ulang botol plastik) siap digunakan dalam proses pembuatan casing ban hijau ini. Pemanfaatan bahan daur ulang melalui  teknologi ContiRe.Tex akan diterapkan Continental  mulai tahun 2022. Ke depannya, bahan baku karet untuk kompon tapak ban konsep Continental ini akan berasal dari karet alam 100%  Taraxagum yang memungkinkan retreading berkali-kali. Agar proses retreading tidak merusak lapisan casing ban,  terdapat  tanda berwarna hijau. Jika lapisan casing  sudah rusak, ban langsung dibuang.      

>>> Begini Kalau Ban Dibuat dari Limbah Botol Plastik 

Sudah makan asam garam jadi wartawan, mulai dari wartawan kampus sejak 1988, dan jadi wartawan bidang otomotif sejak 1995. Pernah menulis untuk beberapa media top mulai dari koran, majalah dan tabloid. Tahun 2021 ia menulis untuk Cintamobil.com.

Sejak usia 3 tahun sering diajak ayah untuk membantu mengurus mobil dinas semisal membawakan alat kerja, minyak, fluida dan suku cadang. Akhirnya otomotif menjadi bagian hidup. 
Selepas kuliah dan sebelum wisuda, bergabung menjadi reporter tabloid Otomotif yang berada dalam naungan Kelompok Kompas Gramedia dengan bidang utama penulisan roda empat. Kemudian pindah ke Liputan6 dan mengisi berita untuk desk internasional. Lalu tahun 1998 bergabung dengan majalah Mobil Motor, majalah otomotif tertua di Indonesia (terbit sejak tahun 1970). 
Kemudian tahun 2003, pindah ke majalah Motor Trend (edisi Indonesia). Tahun 2009 kembali ke majalah Mobil Motor dan tahun 2014 mudik ke majalan Motor Trend. Pada tahun 2020 mengisi Otoblitz.net dan mulai tahun 2021 menulis untuk Cintamobil.com. 

Awards

  • 2003: Juara 1, Lomba Menulis General Motors Indonesia (Review Produk) 
  • 2007:  Juara 1, Lomba Menulis General Motors Indonesia (Review Teknologi)
 
back to top