80% Kecelakaan Bus dan Truk karena Rem Blong Disebabkan Sopir Tak Ahli

20/04/2021

Pasar mobil

4 menit

Kecelakaan bus dan truk akibat rem blong masih terjadi di Indonesia. Tapi tahukah Anda kalau rem blong justru disebabkan sopir yang tak ahli mengatasinya?

Kecelakaan bus dan truk kerap terjadi di Indonesia. Berbagai faktor melatarbelakangi terjadinya kecelakaan bus dan truk itu yakni manusia, kendaraan, dan kondisi jalanan yang dilintasi. Namun dari ketiga faktor tersebut ada fakta yang cukup mencengangkan. 

Adalah ketidakahlian manusia dalam mengemudi bus dan truk menjadi sumber utama dari kecelakaan rem blong yang diakibatkan keduanya.

Foto bus Sugeng Rahayu menabrak rumah warga setelah menabrak empat mobil di Sragen

Banyak pengemudi tak ahli dalam mengatasinya

>>> Ketahuilah Penyebab Rem Mobil Overheat dan Solusi Mencegahnya

Kecelakaan Bus dan Truk Rem Blong karena Sopir Tak Ahli

Senior Investigator Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Ahmad Wildan mengungkap 80 persen rem blong saat kecelakaan truk dan bus disebabkan oleh minimnya keahlian sang sopir. 

"80 persen rem blong pada bus dan truk penyebabnya adalah brakefading atau kampas yang mengalami overheat. Ini bukan masalah teknologi kendaraan bermotor, ini adalah skill base error, error yang disebabkan unskill daripada pengemudinya, 20 persen baru malfunction kendaraan bermotor," jelas Wildan dalam Webinar Sinergi Pemerintah dan Operator dalam Mewujudkan Angkutan yang Berkeselamatan seperti ditayangkan Youtube Dirjen Perhubungan Darat, Selasa (20/4/2021). 

Wildan menjelaskan 90 persen kecelakaan rem blong pada bus dan truk itu terjadi di jalan menurun. Saat melintas di jalanan menurun maka kendaraan memiliki energi potensial dan juga energi kinetik. Seiring dengan menurunnya jalan, kedua energi tersebut kian membesar. 

Ketika pengemudi berusaha menghentikan kendaraannya yang sedang meluncur dari atas, maka akan berlaku hukum thermodinamika. Bahwa tidak ada energi yang hilang, energi hanya akan berubah bentuk, energi potensial dan energi kinetik akan berubah menjadi energi kalor atau energi panas yang bertumpu pada pusat pengereman yaitu tromol dan kampas.

rem blong pada bus dan truk

Sistem rem pada bus dan truk

Saat terjadi rem blong masalahnya bukan pada gaya pengereman tapi masalahnya ada didisipasi panas. Seberapa besar kemampuan kampas rem menahan, menanggung kampas yang dihasilkan menanggung panas yang dihasilkan perubahan dua energi tadi. Ketika kampas mampu menahan, maka dia lolos, selamat. Tapi ketika dia tidak mampu, panas berlebih maka akan jadilah yang disebut brakefading.

Brake fading merupakan fenomena kampas rem mengalami overheat akibat rem pedal dipaksa bekerja maksimal. Ketika kampas rem panas, permukaannya menjadi licin seperti kaca. Kampas menempel tromol, tapi roda terus berputar. Rem blong juga bisa terjadi karena pengemudi mengocok rem saat terjadi brakefading sehingga pedal rem rem dan pedal kopling menjadi keras saat tekanan kurang dari 6 bar. 

"Apa yang dirasakan pengemudi? Remnya blong tapi roda terus berputar. Apa yang dilakukan berikutnya? Dia mencoba memastikan dapat rem lagi, ngocok rem untuk mencoba mencari gaya pengereman. Apa yang terjadi? Ketika kita nginjak rem, sekali injak kita buang 0,3 bar pada saat tekanan angin pada sistem rem mencapai 6 bar pedal rem dan pedal koplingnya keras nggak bisa diinjak sekali," beber Wildan.

>>> Rem Bus dan Truk Harus Cepat dan Pendek, Ini Alasannya

Sopir Melakukan Kesalahan Berulang

rem blong pada bus dan truk

Faktor jalan juga bisa berpotensi sebabkan celaka

Belum habis sampai di situ. Ketidakmampuan sopir dalam mengemudi membuatnya melakukan kesalahan lagi. Biasanya mereka memindahkan gigi dari tinggi ke rendah dan berakhir di gigi netral. Ini lantaran pedal kopling tidak bisa diinjak dan Syncromesh tidak mampu bekerja karena adanya perbedaan yang tinggi pada putaran mesin yang dipaksa masuk ke putaran rendah.

Upaya selanjutnya yang biasa dilakukan sopir bus dan truk saat rem blong adalah menarik hand brake. Padahal itu sia-sia. 

"Ketika panik, dia mencoba melakukan kesalahan ketiga memindahkan gigi tinggi ke rendah, otomatis masuk ke gigi netral. Itu adalah teknologi otomotif yang dipersiapkan untuk melindungi mesin agar tidak rompal. Upaya terakhir mereka menarik hand brake, percuma masalahnya kampas sudah menjadi licin seperti kaca," kata Wildan. 

Sejumlah kejadian rem blong yang diinvestigasi Wildan terjadi pada sederet kecelakaan di Tanah Air. Beberapa kecelakaan yang diketahui sang sopir kurang mahir dalam berkendara adalah Kasus Pagar Alam, Kasus Wado Sumedang, hingga yang terbaru, Kasus Tanjakan Emen di Subang. 

>>> Truk Dam Picu Tabrakan Beruntun di Lamongan Jawa Timur, Satu Pengemudi Ninja Tewas

Menjadi jurnalis otomotif di salah satu media ternama di Indonesia sejak 2016 dan telah memiliki ragam pengalaman menguji mobil hingga mengunjungi pameran otomotif tingkat dunia. Bergabung sebagai Editor di Cintamobil sejak tahun 2020.

Lulusan Universitas Trisakti ini mengawali karir sebagai jurnalis di kanal ekonomi di salah satu media ternama di Indonesia sejak 2015. Kemudian pada tahun 2016, dipercaya untuk mengisi kanal otomotif. Sebagai jurnalis di bidang otomotif, tentu dituntut untuk mengetahui ragam informasi yang berkaitan dengan mobil, motor, hingga lalu lintas kendaraan. Pun demikian dengan aturan lalu lintas yang berlaku saat ini. 

Tidak cuma memiliki pengetahuan soal industri otomotif Tanah Air, bekerja di media mainstream artinya dituntut juga untuk menyajikan berita secara cepat dan akurat. 

Dengan kemampuan yang dimiliki, sejak saat itu pula mulai dipercaya untuk mengetes ragam mobil baru di Indonesia maupun luar negeri. Adapun ragam mobil yang pernah dicoba antara lain di kelas LCGC, Low MPV, SUV, mobil listrik murni hingga Supercar sekelas Ferrari.

Tak cuma itu, aneka pameran otomotif berskala nasional dan internasional di berbagai negara juga telah dihadirinya. Pada tahun 2020, memutuskan untuk bergabung dengan Cintamobil.com sebagai Editor.

Experience

  • Tokyo Auto Salon 2019
  • Geneva International Motor Show 2017
  • GIIAS 2016, 2017, 2018, 2019
  • IIMS 2017, 2018, 2019
  • IMOS 2016, 2018
 
back to top