4 Perubahan Perilaku Penumpang Transjakarta Sebelum dan saat Pandemi

07/06/2020

Pasar mobil

3 menit

Share this post:
4 Perubahan Perilaku Penumpang Transjakarta Sebelum dan saat Pandemi
PT Transjakarta mencatat terjadi perubahan perilaku pelanggan yang cukup signifikan pada waktu sebelum pandemi COVID-19 dengan saat pandemi berlangsung.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjadi pilihan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam menangani pandemi virus Corona (COVID-19). Hingga saat ini memasuki tahap 4 sejak pertama kali diberlakukan 10 April 2020.

Seiring hal tersebut, PT Transjakarta melakukan penyesuaian mengikuti aturan transportasi umum selama pelaksanaan PSBB, dan bahkan sudah dilakukan sejak sebelum PSBB. Lantas, apa yang berubah saat ini dari saat sebelum pandemi?

Perubahan perilaku penumpang

Foto menunjukkan Penumpang TransJakarta

Penumpang Transakarta banyak berubah sejak pandemi COVID-19

>>> Ini Cara Menghindari Tertular Virus Corona di Transportasi Umum

Transjakarta termasuk yang dikecualikan dari larangan beroperasi. Angkutan favorit warga Jakarta itu masih beroperasi, namun dengan sejumlah aturan. Transjakarta mencatat ada 4 perubahan signifikan pada perilaku pelanggan dan operasional Transjakarta dari saat sebelum pandemi dengan saat pandemi berlangsung.

  1. Sebelum pandemi, bus dapat melayani sekitar 90 pelanggan per bus untuk bus besar, 120 pelanggan untuk bus gandeng, dan sekitar 60 pelanggan untuk metrotrans. Saat pandemi, jumlah pelanggan dibatasi maksimal 50 persen (60 pelanggan untuk bus gandeng dan 30 pelanggan untuk bus besar). 50 persen sisanya dipergunakan untuk penerapan physical distancing (jarak aman) antar pelanggan.
  2. Sebelum pandemi, untuk mengisi saldo e-ticket secara tunai bisa dilakukan di halte. Saat pandemi, hal itu tidak bisa. Untuk mengisi saldo e-ticket dilakukan di merchant lain.
  3. Sebelum pandemi, tidak ada kewajiban memakai masker bagi pelanggan. Saat pandemi, pelanggan wajib memakai masker, dan jika tidak diindahkan tidak diperbolehkan naik bus.
  4. Sebelum pandemi, tidak ada anjuran menggunakan sanitizer dan Transjakarta tidak menyediakan hand sanitizer. Saat pandemi Transjakarta menyediakan hand sanitizer di halte untuk digunakan pelanggan.

Perubahan statistik penumpang

Foto Penumpang TransJakarta jumlahnya menurun drastis

Bus TransJakarta tetap beroperasi selama pandemi

>>> Dapat Layanan Khusus, Tenaga Medis Bisa Naik TransJakarta Hingga Malam

Bukan hanya perilaku pelanggan yang berubah, statistik pelanggan juga mengalami perubahan dari saat sebelum pandemi dengan saat pandemi berlangsung. Setidaknya ada 4 perubahan signifikan yang dicatatkan Transjakarta.

  1. Sebelum pandemi, pelanggan prioritas adalah lansia, ibu hamil, dan membawa anak. Saat pandemi pelanggan prioritasnya tenaga rumah sakit dan puskesmas. Bahkan orang-orang tersebut diberi layanan khusus untuk bisa baik Transjakarta hingga malam hari.
  2. Sebelum pandemi, jumlah pelanggan rata-rata 879 ribu per hari. Saat pandemi, jumlah pelanggan turun 91 persen menjadi rata-rata 83 ribu per hari (berdasarkan data Februari dan April 2020).
  3. Sebelum pandemi, waktu tempuh perjalanan rata-rata 109 menit dari titik awal hingga titik akhir. Saat pandemi, waktu tempuh lebih cepat 35 persen menjadi rata-rata 71 menit.
  4. Sebelum pandemi, pertanyaan paling sering diajukan pelanggan adalah 'Rute yang melewati tujuan'. Saat pandemi, yang paling sering ditanyakan adalah 'Informasi ketersediaan rute'.

Kini Jakarta memasuki masa transisi, meski demikian pandemi belum benar-benar berakhir. Transjakarta mengajak para pelanggan dan warga DKI untuk tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan seperti menjaga jarak aman, menjaga kebersihan, menggunakan masker saat di luar rumah, serta membiasakan diri mencuci tangan dengan sabun.

>>> Berita menarik lainnya ada disini!

Share this post:
Penulis
Satu-satunya anggota redaksi yang berbasis di Jawa Tengah. Bergabung di Cintamobil.com sejak 2017 sebagai Content Writer. Saat ini, kerap menulis berbagai informasi seputar lalu lintas dan perkembangan transportasi di Indonesia.
 
back to top