Wuling Pilih Formo Blind Van dan Bukan Pick Up, Ternyata Ini Alasannya

09/12/2018

Mobil baru
Share this post:
Wuling Pilih Formo Blind Van dan Bukan Pick Up, Ternyata Ini Alasannya
Wuling menghadirkan model keempatnya di Indonesia yaitu Formo dalam dua varian, minibus untuk kategori passenger car 8-seater dan blind van untuk commercial vehincle. Ternyata ada alasan khusus mengapa Wuling tidak menghadirkan pickup untuk kendaraan komersil dan malah pilih blind van. Berikut infonya!

Seorang model berpose bersama Wuling Formo

Wuling Formo hadir di Semarang sehari setelah diluncurkan di Jakarta

Perlahan tapi pasti, merek asal China Wuling melengkapi line up di berbagai segmen. Setelah Wuling Confero S di segmen low MPV, dan Cortez di segmen medium MPV, Wuling meluncurkan model berikutnya di segmen komersial, yaitu Formo dengan kubikasi mesin 1.200 cc. Hadir dalam dua varian minibus dan blind van, model ini memang ditujukan sebagai kendaraan 'pencari uang'.

Wuling Formo minibus ditujukan untuk kendaraan angkutan manusia seperti angkutan umum, rental maupun taksi online. Sedangkan Formo blind van ditujukan sebagai kendaraan angkutan barang atau mobil sales. Ini terlihat dari settingan interior dan eksterior keduanya yang sangat berbeda. Formo blind van hanya memiliki satu baris kursi di bagian depan, untuk pengemudi dan penumpang di sebelahnya serta tidak memiliki kursi di baris belakang alias kosong melompong. Desain jendelanya juga dibikin mati tak berkaca seperti umumnya mobil-mobil sales yang lain macam Daihatsu Gran Max van dan Suzuki APV kargo.

>>> Siapkan Target, Wuling Formo Sasar Segmen Bisnis

Lalu, mengapa Wuling memilih desain blind van untuk Formo komersil dan bukan pick up?

Seperti diketahui, selain van model lain yang umum digunakan untuk angkutan barang adalah pick up. Dengan bak terbuka, konsumen bisa mendapatkan mobil dengan harga miring sebab biasanya mobil-mobil pick up dijual lebih murah tanpa mengurangi performa mobil. Formo blind van yang dibuat dari basisnya Confero S tidak dihadirkan dalam bentuk pick up sebab menurut Brand Manager Wuling Indonesia, Dian Asmahani, survei pasar yang dilakukan Wuling menunjukkan pasar blind van punya prospek lebih besar ketimbang pick up.

"Sebenarnya, pasar blind van juga cukup banyak (peminatnya). Selain, itu kami ingin memaksimalkan platform yang sudah ada,” tutur Dian sebagaimana dikutip dari Viva, Selasa (4/12/2018).

Formo Blind Van tampak dari samping belakang

Wuling Formo blind van dijual dengan harga Rp 135.800.000 (OTR Jakarta) dan Rp 142.800.000 (OTR Semarang)

Meski demikian, bukan berarti tidak ada peluang buat menghadirkan mobil Wuling dalam bentuk pick up. Harapan dan proyeksi selalu ada sebab salah satu target besar Wuling adalah punya model di semua segmen tanpa kecuali. Namun, untuk merealisasikan Dian mengatakan harus ada survei yang matang terhadap kondisi pasar. Ini penting sebab Wuling tak ingin model yang dihadirkan di Indonesia hanya sebagai pelengkap saja, tapi harus benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat.

"Tentu mau ke depannya. Platform pikap di China sudah ada, banyak banget. Jadi, kalau masukkan produk-produk di segmen lain, kami ingin melihat dulu sebenarnya. Soalnya, pasti ada studi dari sisi produk, sisi konsumen, termasuk soal produk yang harus dibawa ke sini,” kata Dian.

>>> Terus Berkembang, Ini Pengaruh Wuling Terhadap Pasar Otomotif di Indonesia

Untuk saat ini, Wuling fokus pada model yang telah ada yaitu Wuling Formo dan saudara-saudaranya sambil menunggu waktu yang tepat untuk menghadirkan model paling dinanti, yaitu Wuling SUV. Mau tahu seperti apa penampilan Wuling Formo minibus dan Formo blind van, berikut tayangan esklusif tim video Cintamobil.com di hari pertama peluncuran di Jakarta, (7/11/2018).

>>> Informasi dunia otomotif dalam dan luar negeri terlengkap hanya di Cintamobil.com

Share this post:
Penulis
Satu-satunya anggota redaksi yang berbasis di Jawa Tengah. Bergabung di Cintamobil.com sejak 2017 sebagai Content Writer. Saat ini, kerap menulis berbagai informasi seputar lalu lintas dan perkembangan transportasi di Indonesia.
 
back to top