Merasakan Kedinamisan Mobil Listrik Hyundai Langsung di Sirkuit

23/03/2021

Mobil baru

5 menit

Share this post:
Merasakan Kedinamisan Mobil Listrik Hyundai Langsung di Sirkuit
Tidak seperti biasanya, PT Hyundai Motors Indonesia kali ini mengajak awak media untuk merasakan langsung kedinamisan mobil listrik Hyundai di Sirkuit Sentul...

Mobil listrik memang identik dengan langit biru dan efisiensinya saat digunakan sebagai kendaraan harian. Namun bagaimana jika mobil listrik ini diajak merasakan panasnya trek balap sirkuit? Kali ini PT Hyundai Motors Indonesia selaku agen pemegang merek Hyundai di Tanah Air mengajak kami untuk merasakan langsung kedinamisan mobil listrik di Sirkuit Sentul.

Foto Hyundai KONA EV facelift dan Hyundai IONIQ Prime 2021

Dua jagoan mobil listrik Hyundai ini dicoba langsung di sirkuit

Ada dua produk mobil listrik Hyundai yang diboyong serta sesi test drive spesial ini. Yakni Hyundai IONIQ yang terdiri dari dua trim yakni Prime dan Signature, serta Hyundai KONA EV baik model yang sebelum facelift maupun sesudah facelift. Oke tak perlu berlama-lama tim tester Cintamobil.com segera lompat ke balik kemudi untuk mengetahui impresi kendaraan full elektrik ini saat digunakan di sirkuit.

Akselerasi Smooth

Berbeda dengan menggunakan mobil dengan motor bakar bensin, tentunya tak ada deruman maupun getaran apapun yang mengindikasikan bahwa mesin telah menyala. Hanya tulisan 'Ready' di atas panel instrumen yang menandakan mobil ini siap untuk dijalankan. O ya, masing-masing dari media mendapatkan jatah 2 lap, dan di sesi pertama ini kami mencoba Hyundai IONIQ EV terlebih dahulu, kebetulan mobil listrik yang kami coba ini tipe Prime.

Foto tim Cintamobil.com di balik kemudi Hyundai IONIQ Prime 2021

Tim Cintamobil.com behind the wheel

Perbedaan yang paling terlihat antara tipe Prime dengan Signature di IONIQ adalah ketiadaan Sunroof, tapi itu tak terlalu menjadi masalah. Mengingat fitur ini juga kami yakin jarang digunakan karena Indonesia adalah negara dengan iklim tropis. Hal yang kami rasakan adalah akselerasi mobil ini terasa begitu smooth, seolah dinamo berjenis Permanent Magnet Synchronous Motor yang diusung paham betul apa kemauan pengemudi.

Handling Oke Tapi...

Saat mode berkendara kami pindah ke mode SPORT, kehalusan tersebut berubah 180°. Respon throttle jadi sigap. Injak sedikit pedal akselerator, mobil pun sudah melaju di atas 130 km/jam sebelum kami berbelok di tikungan 'S' besar. Nah, saat menikung kami lebih takjub lagi karena bodi terasa 'nurut' seberapapun setir dibelokkan. Body roll terasa minimal baik di IONIQ maupun KONA kendati setirnya yang mengusung Electronic Power Steering terasa kurang feedback.

Gambar Hyundai IONIQ 2021 di sirkuit sentul

Salah satu keuntungan titik pusat gravitasi rendah adalah mengurangi body roll

Sejenak kami teringat penjelasan Bonar Pakpahan selaku Product Expert Hyundai yang pernah mengatakan bahwa kestabilan mobil ini banyak terbantu dengan tata letak baterai di bagian terbawah kendaraan. Sehingga dengan posisi baterai yang rendah, dipercaya mampu memperbaiki titik pusat gravitasi sehingga mobil jadi lebih stabil. Hal yang sama juga berlaku pada Hyundai KONA EV.

Foto ban dan velg Hyundai IONIQ

Ban yang diusung kurang pas untuk kebutuhan manuver di sirkuit

Sayangnya ban Kumho Solus TA31 dengan ukuran 205/60R16 yang diusung IONIQ ini agak terasa kurang 'ngegrip' untuk pengendaraan sporty di sirkuit. Lemahnya cengkraman ban pada mobil ini berdampak pada seringnya mobil kami understeer saat melahap tikungan cepat, utamanya saat kami mempraktikkan racing line yang optimum sesuai dengan arahan beberapa pebalap nasional yang sering berlaga di sirkuit ini.

Tak Perlu Sering Injak Rem

Salah satu fitur istimewa yang ada di setiap mobil listrik Hyundai adalah tersedianya fitur Smart Regenerative Braking. Sistem ini selain bisa diatur manual via paddle shift yang berada di balik kemudi maupun menggunakan sensor radar on-board untuk secara otomatis mengontrol level pengereman regeneratif berdasarkan situasi jalan dan mobil yang ada di depan.

Foto paddle shift di Hyundai KONA EV 2021

Semakin tinggi level yang Anda pilih, semakin besar pula energi kinetik yang akan diserap kembali sebagai daya charging baterai. Ketika level regenerative brake diatur di posisi Level 3 maka kami pun tak perlu sering menginjak pedal rem menjelang tikungan. Padahal di salah satu trek lurus sirkuit Sentul kecepatan mobil ini sempat berada di angka 130 km/jam. 

>>> Keunggulan Hyundai KONA EV PATWAL Kantor Gubernur Jawa Barat

Seberapa Cepat Penurunan Level Baterainya?

Sebagai informasi dalam pengendaraan normal, hasil pengetesan World harmonized Light-duty vehicles Test Procedure (WLTP) untuk konsumsi energi dari Hyundai IONIQ adalah 7,24 killometer untuk setiap 1 kWh, sedangkan untuk Hyundai Kona EV adalah 6,96 kilometer per 1 kWh-nya. Untuk pengemudian di sirkuit jelas di bawah kedua figur tersebut.

Gambar Hyundai KONA EV 2020 di sirkuit sentul

Seberapa cepat penurunan baterainya saat digeber habis?

Kami memperhatikan indikator baterai saat menjadi 'penumpang' sementara rekan media lain yang satu mobil dengan kami mengemudikan mobil ini di sirkuit. Saat di mode SPORT dan pedal akselerator dibejek untuk membuat mobil berakselerasi keras indikator baterai hanya turun sekitar 2 hingga 3% saja. Hal ini menandakan bahwa mobil listrik racikan Hyundai ini cukup hemat dalam penggunaan daya listrik.

Foto head unit Hyundai IONIQ 2021

Mode berkendara yang digunakan di sirkuit adalah mode SPORT

Tak sampai disitu saja kelebihannya, baik Hyundai IONIQ maupun Hyundai KONA merupakan jajaran mobil listrik tercanggih di Indonesia. Dua produk ini menggunakan baterai berpendingin cairan. Kelebihan utama dari baterai berpendingin cairan adalah suhunya yang lebih terjaga bila dibandingkan dengan baterai berpendingin udara seperti di mobil hybrid.

Kesimpulan

Foto tim Cintamobil.com dan Hyundai KONA EV 2020

Mobil listrik juga bisa tampil dinamis di sirkuit

Kami sempat tak percaya bahwa mobil listrik juga punya kedinamisan berkendara yang setara dengan mobil berbahan bakar bensin. Namun, Hyundai membuktikan hal tersebut. Rasanya tak berlebihan jika kami bilang kedua mobil listrik ini mampu memenuhi ekspektasi orang terhadap sebuah kendaraan elektrifikasi. Tinggal menunggu waktu saja SPKLU jumlahnya semakin banyak, dan insentif pajak lebih digalakkan agar mobil seperti ini makin banyak diminati konsumen.

>>> First Drive Hyundai KONA EV 2020: Crossover Listrik yang Fun To Drive

Share this post:
Penulis
Mengawali karir sebagai jurnalis otomotif pada 2014, setahun kemudian Arfian menjadi test driver di sebuah tabloid otomotif nasional. Bergabung di Cintamobil.com sejak 2018, Kini ia menjadi Managing Editor Cintamobil.com
 
back to top